Selain itu, tambah Peneliti Center for Strategic Policy Studies Sekolah Kajian Stratejik dan Global UI juga terkait ASEAN centrality di ASEAN Regional Forum (ARF), dan bagaimana peran ASEAN dalam mengatasi konflik di Laut China Selatan, peran dalam mengatasi rivalitas AS-RRT di kawasan Indo-Pasifik, serta implementasi konsep masyarakat politik keamanan ASEAN.
“Dalam pilar kerja sama masyarakat ekonomi ASEAN, buku juga akan membahas terkait integrasi ekonomi ASEAN, pembangunan berkelanjutan, kerjasama investasi dan perdagangan ASEAN+3 (China, Jepang, Korea Selatan), pemulihan ekonomi pasca Covid-19, rantai pasok regional, komunitas ekonomi kreatif ASEAN, kendaraan listrik di ASEAN, digital economy dan blue economy ASEAN,” kata Yanuardi yang saat ini studi S3 di Antropologi FISIP UI.
Adapun soal kerja sama masyarakat sosial-budaya, inisiatif tersebut juga akan membahas terkait pengenalan budaya ASEAN sebagai basis integrasi dan memperkokoh kesadaran, kesetiakawanan, kemitraan dan kebersamaan masyarakat ASEAN, sinergi dan kolaborasi pendidikan di ASEAN, second track diplomacy, dan lain sebagainya.
Yanuardi berharap agar inisiatif keterlibatan akademisi, peneliti, pengamat, pengambil kebijakan serta masyarakat sipil dapat memperkaya gagasan terkait pembangunan dan pengembangan Indonesia dan konektivitas antar-ASEAN.
“Kami berharap kolaborasi Halut Connexion dapat menjadi salah satu wadah bagi kolaborasi dan keterlibatan lokal-nasional, lokal-global untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik,” kata Yanuardi yang juga Pengurus Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI Pusat.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.