“Jadi ini bencana besar harus menjadi concern bersama untuk kemudian kita sharing dalam rangka paling tidak menemukan apa menjadi penyebab utama penurunan penutupan hutan,” tutur Azis.

“Tidak cukup sampai di situ, apa rencana aksi selanjutnya akan kita lakukan? Sebagai organisasi non pemerintah, Foshal merasa bahwa penting untuk kita membangun kesadaran kritis bersama dalam rangka agenda terkait dengan perjuangan melindungi mangrove di Maluku Utara,” cetusnya.

Ia menambahkan, nasib mangrove berimplikasi besar terhadap masa depan lingkungan. Karena itu ia mengajak semua pihak ikut menyuarakan.

“Kami menyadari selama ini pemberitaan soal isu lingkungan oleh jurnalis sangat minim. Senang dengan isu jabatan. Instansi pemerintah di internal birokrasi kita abai ada isu lebih besar dampaknya terhadap kita semua yaitu isu lingkungan,” tandasnya.

Diskusi ini sendiri menghadirkan pemantik Direktur ED Walhi Malut Faisal Ratuela, perwakilan BPDAS Akemalamo Muh. Arbain Mahmud, dan Ketua KNPI Ternate Sahmar Ishak, serta dipandu CEO kabarpulau.com Mahmud Ici.