“Lalu ada santunan anak yatim kita himpun dari donatur dan wakaf di Maluku Utara dan kegiatan mimbar serta pembinaan memberikan insentif pada pembina TPQ yang status tidak memiliki pekerjaan tetap, sudah tua atau janda. Kita berikan sebesar Rp 250 ribu per bulan dan tercover ke kita kurang lebih 86 TPQ di Maluku Utara,” jelasnya.
Dalam perjalanannya, ada pihak tertentu yang mendesak anggaran komunitas ini diaudit.
“Saya mempersilahkan, malahan itu lebih bagus. Relawan kabupaten/kota tidak digaji, kalau tidak percaya silahkan ditanyakan ke relawan, karena ini dana umat. Bagi saya Alquran sebagai pedoman hidup sehingga harus dipelajari anak-anak muslim sejak dini. Untuk emerintah sendiri, kami mengimbau supaya Lembaga Pendidikan Alquran di kabupaten yang dikelola pemerintah atau Kemenag agar diaktifkan kembali,” ucap Thada.
Thada sendiri berkeinginan besar mendirikan museum Alquran tua.
“Alquran sudah tua ada di pelosok di Maluku Utara, entah itu terbitan tahun berapa, kita kumpulkan untuk museum. Saat ini paling lama kita temui Alquran terbitan tahun 1942 di Gane Barat,” terangnya.
“Mudah-mudahan jelajah kita semakin jauh kita akan menemukan lebih unik dari itu dan dibuat dalam museum sebagai langkah syiar. Sehingga kalau ada masyarakat yang mau tahu perkembangan kita bisa beri tahu ke generasi ke depan. Rencana kita buat museum di Ternate namun belum tahu pasti kapan karena memang sekretariat belum punya sementara lagi carikan tempat nyaman, itu menjadi impian kami,” tandas Thada.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.