Pertumbuhan yang kuat di tahun 2021 memberikan sinyal positif untuk prospek ekonomi di tahun 2022 dan meningkatkan keyakinan pelaku pasar terhadap pemulihan ekonomi Indonesia. Tantangan terbesarnya adalah ketidakpastian global sebagai imbas dari pandemi Covid-19 yang disusul invasi Rusia ke Ukraina memunculkan ujian berat bagi semua negara di dunia termasuk Indonesia.
Untuk itu, APBN difokuskan untuk melaksanakan program pemulihan ekonomi nasional secara bertahap dan menjaga pertumbuhan ekonomi. Di Provinsi Maluku Utara, berbagai indikator ekonomi di wilayah Maluku Utara mengalami perkembangan yang sangat baik seperti pertumbuhan ekonomi Triwulan I Tahun 2022 yang mampu tumbuh sebesar 29,63% jauh di atas
pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,01%.
Tingkat inflasi Maluku Utara pada April 2022 sebesar 1,82% (yoy) di bawah inflasi nasional sebesar 3,47% (yoy). Indikator Nilai Tukar Nelayan (NTN) berada di angka 104,97, dan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 108,30.
Untuk neraca perdagangan regional Maluku Utara sendiri, per April 2022 komponen ekspor mengalami penurunan sebesar 24,05% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sampai dengan April 2022, komoditas yang paling banyak diekspor adalah Ferro Nickel, sedangkan perusahaan penyumbang hasil ekspor terbesar adalah PT Yashi Indonesia Investment.
Untuk impor sendiri naik sebesar 17,92% dari bulan sebelumnya. Komoditas yang paling banyak diimpor yaitu berupa batu bara/antrasit dan perusahaan penyumbang devisa impor terbesar yaitu PT Angel Nickel Industry.
Pada kesempatan yang sama Adnan menyampaikan bahwa isu strategis di Maluku Utara yakni terkait dengan perkembangan Covid-19 dan penyaluran Dana Alokasi Khusus Fisik. Pada bulan April, kasus Covid-19 turun signifikan menjadi 64 kasus, 402 sembuh, dan 5 orang meninggal dunia. Turunnya kasus Covid-19 dan tingkat kesembuhan pasien ini memberikan angin segar bagi pemerintah dan masyarakat, terutama dalam pelonggaran PPKM, khususnya pada sektor transportasi.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.