Tandaseru — Khatam Alquran di Desa Mangoli, Kecamatan Mangoli Tengah, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, menampilkan berbagai ritual dan tradisi khas Desa Mangoli.
Tradisi keislaman di Desa Mangoli ini sedikit berbeda dengan khatam Alquran yang biasa kita jumpai di berbagai daerah.
Bagaimana tidak, keunikan khatam Alquran di Desa Mangoli ini terlihat pada tradisi memasak adat oleh perwakilan sembilan marga, atau dalam bahasa lokanya disebut Umasoa Gatasia (sembilan marga).
Kesembilan marga di Desa Mangoli itu dipimpin Mata Oga atau pemimpin marga. Sedangkan pucuk pimpinan tertinggi disebut juga Sangaji (Kepala Desa).
Di lain sisi, sebelum khatam Alquran dilaksanakan, masing-masing keterwakilan marga atau umasoa gatasia harus mempersiapkan hidangan terlebih dahulu sebelum dihantarkan ke masjid dan akan diakomodir oleh masing-masing mata oga.
Adapun tradisi antar makanan, juga disesuaikan dengan urutan marga yang dituakan dari kesembilan umasoa. Mulai dari Umasoa Umasangaji, Masuku, Sillia, Waisale, Umacina, Tukuboya, Kufau, Soamangon, dan Mafa.
Kepada tandaseru.com, Kepala Desa Mangoli Yusrin Sangadji menuturkan, tradisi dan ritual adat di Desa Mangoli saat perayaan khatam Alquran sudah menjadi warisan budaya turun-temurun.
Terkait dengan beberapa tradisi saat perayaan khatam Alquran, Yusrin bilang ada yang dikenal dengan bamapu adat (memasak adat).
Ada perbedaan pada desain hiasan setiap menu yang disajikan masing-masing marga. Akan tetapi, kata Yusrin, meskipun berbeda hiasannya, menu yang dihidangkan dalam berbagai bentuk tetap memiliki kesamaan.
Kesamaan menu yang dimaksudkan juga memiliki filosofi sosial dalam kekompakan dan silaturahmi bagi seluruh masyarakat yang terdiri dari berbagai marga-marga.
“Memang ada desain yang berbeda dalam setiap hidangan, tetapi jenis makanan yang dihidangkan tetap sama, karena itu merupakan bentuk solidaritas masyarakat Desa Mangoli dalam menjaga tali silaturahmi sesama manusia,” tandas Yusrin.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.