Oleh: Agus SB
Alumni SMP Negeri-1 Ternate-85
______
BEBERAPA tahun belakangan ini, “reuni”(-an) muncul menjadi fenomena yang marak. Dilakukan
oleh orang dari berbagai latar yang muasalnya dari masa lalu. Umumnya mereka dari latar perguruan tinggi dan sekolah. Mereka berkumpul dan bersatu kembali (reuni), “menyatu kembali” dari ‘masa lalu‘ dalam suasana masa kini’. Tentu saja ‘bersatu’ atau ‘menyatu’ bukan lagi dalam arti harfiah. Momen-momen bersama di masa lalu mengendap seperti residu di dalam ketaksadaran (unconsciousness), lalu dibangkitkan sebagai kenangan (nostalgia) di dalam ingatan (memory), mencetuskan hasrat pada ‘menyatu kembali’.
Dalil bahwa, “manusia tidak dapat melepaskan diri dari masa lalunya” nampaknya dikonfirmasi oleh fakta yang tampak sepele ini.
Kebangkitan ‘kenangan’ dalam ingatan sadar, dan hasrat untuk ‘menyatu kembali’ difasilitasi kehadiran peralatan informasi dan komunikasi abad 21; internet dan smarthphone. Melalui keduanya,
nostalgia dibangkitkan, mulanya oleh satu, dua atau lebih orang, kemudian ditularkan ke segala arah dan
orang-orang dari masa lalu di masa kini. Peralatan itu, secara tak langsung, memfasilitasi dihidupkannya kembali hubungan-hubungan sosial yang pernah merentang di antara sesama-sejaman-seangkatan di masa lalu. Melalui fitur WhatsApp, orang-orang saling terhubung, saling menyapa, kadang menyapa dengan nama-nama panggilan sehari hari di masa lalu, seperti “George” alias Ong alias Rusli. Ini mendorong maraknya fenomena reuni.
Nostalgia itu mengandung materi tentang orang orang, perilaku mereka, peristiwa sehari-hari di
masa lalu yang mereka lalui, omongan omongan, canda canda, cinta romantik, cinta tak sampai, atau cinta yang patah, kemarahan, maraju, tapi juga kegembiraan dan kesedihan. Materi yang tersusun di dalam kenangan mengenai masa lalu itu tak akan dijumpai lagi seluruhnya pada masa kini. Waktu, peristiwa, atau momen tak berulang. Apa yang terjadi pada masa kini, melalui nostalgia itu, adalah menemukan kembali dengan cara mengingat ingat (recall) dan menelusuri siapa siapa dari orang orang, yang pernah dekat, dekat tetapi agak tak dekat, menyusuri lokasi mukimnya seseorang, seperti seorang guru, seorang teman, dan seseorang lagi, dan seterusnya. Kenangan mengenai masa lalu di SMP Negeri Satu Ternate di tahun 1985 itu, lantas menjadi ingatan kolektif (collective memory), menimbulkan hasrat kolektif pada ‘penyatuan
kembali’.
Ingatan dan hasrat kolektif pada reuni menunjukkan satu di antara kebutuhan dan keinginan mendasar lain dari manusia, untuk berinteraksi, membangun kembali relasi, dan merawatnya di antara orang-orang sesama-sejaman-seangkatan melalui ritual reuni. Itulah sifat ingatan, tulis Baskara T. Wardaya, selalu terkait dengan orang lain, dengan peristiwa yang kita alami bersama orang lain, dalam arti
kaitan antar personal, antar kelompok, bahkan antar generasi (2011:h.26). Ingatan adalah alat, lanjut
Wardaya, yang diperlukan untuk memaknai berbagai peristiwa yang dialami atau berlangsung di sekitar,
sekaligus memaknai orang-orang yang pernah, sedang dan akan dijumpai dalam berbagai peristiwa hidup kita (Ibid).


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.