“Sejauh ini, DPRD Morotai belum melakukan hal itu. Karena sampai sekarang ini tidak ada realisasi mapun progres peningkatan masalah tersebut,” ujar Andriansah.
Ketua dan anggota DPRD lantas menerima tuntutan mahasiwa, bersepakat mengagendakan rapat dengar pendapat bersama dinas terkait pada Rabu (1/12).
“Kami akan menyurati dan hadirkan mereka, dan kita memiliki mekanisme sehingga kami juga berdasarkan pertimbangan, kita sama-sama sepakati bahwa kita agendakan untuk menghadirkan BPN dan pihak pemerintah daerah,” ucap Rusminto.
Rusminto pun menutup hearing, tetapi Hippmamoro meminta hearing dilanjutkan hari ini dengan dinas terkait.
Saat Ketua dan sejumlah anggota DPRD meninggalkan ruangan, Muid Talapao, salah satu aktivis Hippmamoro, dengan nada keras meminta Rusminto tetap melanjutkan hearing.
“Pak Ketua, tolong dengarlah pendapat kami. Jangan begitulah. Jangan anti demokrasi dan anti ilmiah. Kami datang menyampaikan aspirasi,” tukasnya.
“Kalau kondisi genting rakyat kesusahan, kami butuh kepastian hari ini, pasti DPRD molorkan. Artinya itu secara langsung DPRD tidak mau memperjuangkan kepentingan orang banyak dan diam,” tambah dia.
Protes demi protes terus berlanjut.
“Tolong hargai kami secara kelembagaan. Kami Hippmamoro Malut datang ke sini jauh-jauh dari Ternate ke Morotai hanya memperjuangkan kepentingan orang banyak, jadi tolong DPRD dengar.”
Situasi terlihat makin memanas dan tidak kondusif lagi. Muid bahkan membanting meja dan beberapa kursi di ruangan tersebut, sementara rekan-rekannya ikut berteriak.
Beruntung, aparat kepolisian dan Satpol PP berhasil melerai mahasiswa yang merontak di ruang paripurna itu. Mereka lalu dituntut keluar meninggalkan gedung DPRD.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.