Dari gula merah juga ia bisa membangun rumah dan menyekolahkan anak-anaknya hingga sarjana.

“Gula merah ini kami kirim ke Ternate dan ada juga ke Sanana (Kepulauan Sula). Saya bahkan sudah keliling Maluku Utara dan Maluku untuk menjual gula merah. Waktu itu masih ada kapal perintis, kami naik kapal itu dan keliling sampai ke Ambon hanya untuk jual gula merah. Saat ini penghasilan kami per bulannya itu Rp 3 juta sampai Rp 4 juta,” kisah Abdullah.

Ia membenarkan selama ini tidak pernah mendapat sentuhan atau perhatian dari pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi. Padahal usaha gula merah adalah penyambung hidup masyarakat Papaloang.

“Untuk Halmahera Selatan, produksi gula merah terbesar ada di Desa Papaloang, karena 80 persen masyarakat Papaloang adalah pembuat dan penjual gula merah tapi kami tidak pernah mendapat sentuhan pemerintah hingga saat ini. Kecuali para penjual atau pengusaha gula merah ini ajukan kredit di bank itu pasti disetujui,” bebernya.

Abdullah berharap, pemerintah bisa melihat masa depan panjang para pembuat gula merah di Desa Papaloang. Dengan begitu, aroma khas gula merah yang telah menghidupi generasi demi generasi di Papaloang tak menguap begitu saja.