Terkadang, godaan dan hasrat itu beririsan dengan tugas dan peran yang diemban alumni HMI. Pada keadaan ini, integritas dan independensi menjadi pertaruhan nilai kader sebagai alumni HMI. Tak jarang, integritas dan independensi alumni HMI harus tergelincir dalam praktik-praktik yang berdampak buruk dan merugikan marwah organisasi. Karena itu, KAHMI tak sekadar institusi yang lahir, tumbuh, dan bertumpu pada romantisisme dan ikatan emosi sesama alumni HMI, tetapi lebih dari itu, ada sinergi dan energi yang harus ditautkan untuk bekerja bagi ummat dan bangsa.
55 tahun KAHMI menjadi momentum merefleksikan eksistensi KAHMI untuk mengedepankan tujuan HMI dan KAHMI secara produktif dan fungsional, serta tidak menjadikan KAHMI sebagai “kendaraan” kepentingan politik pribadi atau kelompok sesaat. Melalui nalar insan cita, KAHMI dituntut untuk ikut menenun serat-serat kebangsaan yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Hari ini, KAHMI berada pada situasi yang tidak dapat dikatakan sehat. Selain seluruh masyarakat dunia, tak terkecuali Indonesia masih dikepung pandemi Covid-19. Indonesia juga dihantam lelaku dan sikap antar anak bangsa yang saling melibas dengan menyuburkan kebencian, intoleransi, pembelahan politik dan agama antar kelompok kepentingan melalui media sosial. Lalu tarikan politik identitas yang terus mewarnai realitas kehidupan yang juga memprihatinkan. BPS merilis, 15 Juli 2021, Maret 2021 sebesar 10,14% atau sebanyak 27,54 juta penduduk Indonesia berstatus miskin. Tingkat kemiskinan Maret 2021 ini sedikit turun dari September 2020 namun masih lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum pandemi pada September 2019. Di belahan wilayah lain Indonesia yang kaya sumber daya alam, praktik ekstraktif ini kian masif, dan rusaknya kondisi ekologis.
Kondisi ini sejalan dengan apa yang disentil Daron Acemoglu dan James A. Robinson melalui karya mereka Why Nations Fail, The Origins of Power, Prosperity, and Poverty, mereka menulis : “Negara menjadi gagal tidak disebabkan karena geografi atau kebudayaan, akan tetapi karena warisan institusi ekstraktif yang memusatkan kekuasaan dan kekayaan pada tangan kelompok elit penguasa yang memicu keresahan pemberontakan, dan perang saudara” (Acemoglu dan Robinson, 2012 : 376)
Tegaknya sebuah negara sangat ditentukan sejauh mana institusi, termasuk aktor di dalamnya bersikap terbuka, tidak korup, apalagi menyalahgunakan kewenangannya berkuasa, dan mampu merubah ketidak-mampuan menjadi mandiri dan mampu. Persoalan yang kerap menjadi perdebatan lebih kepada soal kemakmuran, atau terjadinya ketimpangan yang terjadi. Argumen ini menyatakan bahwa negara-negara miskin menjadi miskin karena mereka memiliki banyak kegagalan dalam mengatur negara mereka. Sebaliknya, negara-negara kaya menjadi kaya karena kemampuan pemimpinnya yang mampu menyelesaikan masalahnya.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.