“Diperkirakan, jika setiap satu kali banjir mengikis dinding tanah sebesar 5 cm maka apabila terjadi 20 kali banjir pengikisan tersebut akan mencapai 1 meter. Sedangkan hujan 30 menit saja daya banjir yang terjadi sudah sangat kuat. Bagaimana jika hujan deras terjadi dalam waktu lama? Atau hujan dengan intensitas tinggi terjadi terus menerus dalam kurun waktu 3-6 bulan? Jawabannya, tidak sampai 5 tahun ke depan separuh dari rumah warga Desa Balisoan Utara yang berada di bibir talut bekas galian akan hilang terbawa banjir,” tegas Agrist.

Ia memaparkan, pembangunan di Balisoan Utara kian hari semakin padat. Karena itu, Komunitas Teras memandang perlu adanya perluasan wilayah desa.

Gambaran ancaman banjir dan erosi di wilayah Balisoan Utara. (Komunitas Teras)
Gambaran ancaman banjir dan erosi di wilayah Balisoan Utara. (Komunitas Teras)
Gambaran ancaman banjir dan erosi di wilayah Balisoan Utara. (Komunitas Teras)

“Kami mengingatkan dan mendesak kepada pemerintah desa, pemerintah kecamatan maupun pemerintah kabupaten, dalam hal ini dinas-dinas terkait, agar segera melakukan upaya-upaya penanganan diantaranya penimbunan kembali untuk menutup ruang gerak air agar tidak semakin menggerus permukiman warga (garis warna kuning). Juga pada garis yang berwarna merah (talut) segera dibangun rap-rap atau dinding beton yang kuat sepanjang talut. Kami juga mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak membuang sampah secara sembarangan, karena sampah yang terbawa banjir bisa menjadi sumber masalah baru,” imbuh Agrist.