Semua pantun dan Kabata-nya ia simpan rapi di laptop. Kelak, jika kesibukan mengurusi kebun tomat berkurang, Gogo akan membukukannya.

Jiwa seni Gogo memang begitu kental. Ia juga tertarik dengan seni tari. Ketertarikannya pada seni tari berawal dari hadirnya Tarian Kapita.

Gogo saat menampilkan Tarian Kapita. (Istimewa)

“Tarian ini menceritakan semangat juang para prajurit perang Kesultanan Tidore dalam usahanya untuk mengusir penjajah dari bumi Kie Raha,’’ terangnya.

Pada 2010, Gogo mulai serius mengikuti latihan menari Kapita di bawah bimbingan Ikbal Salasa, salah satu pelatih tari di Sanggar Seni Rau Gabi. Keseriusannya berbuah manis.

“Saya dipilih menjadi salah satu penari yang menyambut kedatangan ibu Dorce Gamalama di lapangan Gurua yang ada di Gurabunga, dan ini adalah tarian perdana saya di Sanggar Seni Rau Gabi,” tuturnya.

’’Pada bulan Februari tahun 2017 saya mendapat undangan untuk menampilkan Tarian Kapita dalam acara launching Lomba Menulis Blog tentang Tidore yang diadakan di Cibubur, serta acara promosi budaya Tidore di Taman Mini Indonesia Indah dan Universitas Indonesia,’’ sambung Gogo.

Langkah Gogo menjaga tradisi Tidore bukan untuk mengejar eksistensi. Ia sadar nilai budaya harus terus dilestarikan dari generasi ke generasi.

“Saya juga sangat mencintai alam karena dari alam kita belajar secara langsung dan mempraktikkan apa yang ada di sekeliling,’’ ujarnya.

Hingga kini, Gogo masih terus eksis dengan dunia yang dia geluti. Menulis pantun, bertani, berlatih menari, menulis puisi, sembari memperdalam fotografi memotret Gurabunga dari segala sudut.

Malam makin dingin, bulan makin terang, Kota Ternate di kejauhan makin padat cahaya lampu. Gogo sibuk memotret pemandangan Bukit Jandula. Hasil tangkapan kameranya juga cukup indah. Kami begadang hingga pukul 02.00 sebelum akhirnya rehat.