Tandaseru — Ikatan Pelajar Mahasiswa Sagea-Kiya menggelar demonstrasi di depan kantor PT First Pacific Mining, Rabu (18/8), di Halmahera Tengah, Maluku Utara. Aksi ini dipicu kekecewaan massa atas sejumlah kebijakan perusahaan tambang nikel tersebut.
Dalam aksinya, massa menuntut perusahaan segara menghentikan produksi sebelum ada addendum dokumen amdal, segera sosialisasikan kewajiban perusahaan terhadapat masyarakat terkait CSR, dan segera merekrut tenaga kerja lokal, khususnya dari Desa Sagea dan Kiya.
Koordinator Lapangan Sahrul Hasib kepada tandaseru.com mengatakan, kebohongan publik telah dilakukan manajemen perusahaan dan camat setempat. Sebelumnya, kata dia, perusahaan telah melakukan sosialisasi di Taman Kuliner Desa Sagea, namun dalam sosialisasi itu yang disepakati hanya pemuatan sisa ore lama.
“Namun kesepakatan berujung kemunafikan. Perusahaan tersebut telah melakukan produksi atau penggarukan ore baru tanpa sosialisasi dan pembaruan amdal,” ucapnya.
“Ini kebohongan publik yang dilakukan,” sambung Sahrul.
Sementara Mardani Harid dalam orasi singkatnya mengatakan, perusahaan diduga telah melanggar regulasi yang ada. Sebab melakukan penggarukan ore baru tanpa pembaruan amdal dan sosialisasi.
“Untuk itu jika pihak perusahaan tidak mengindahkan tuntutan kami maka kami akan melakukan aksi besar-besaran serta memboikot seluruh aktivitas pertambangan,” tegasnya.
Aksi itu ditanggapi langsung manajemen perusahaan. Juru Bicara PT First Pacific Mining menyatakan, perusahaan telah meminta camat menyampaikan ke masyarakat agar perusahaan dapat menggaruk ore sebanyak 20 ribu kubik.

“Sebab perusahaan membutuhkan ore sebanyak 17 ribu kubik. Kalau tidak sampai target itu maka PT IWIP tidak menerima ore tersebut,” sebutnya.
Mahmud, Manajer PT Branjangan yang merupakan subkontraktor PT First Pacific Mining membenarkan hal yang sama. Menurutnya, perusahaan memang melakukan sosialisasi untuk pemuatan ore lama.
Hanya saja, camat dan dua kepala desa datang ke kantor menanyakan kapan produksi dilakukan dan mengaku siap membantu untuk ritualnya
“Ini bahasa yang dikeluarkan camat dan dua kepala desa,” ujarnya.
Ia menambahkan, rekrutmen karyawan tetap mengutamakan karyawan lokal Sagea-Kiya.
“Kalau perusahaan butuh tenaga kerja maka tetap melakukan pemanggilan,” tandasnya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.