USBP direncanakan terus digunakan hingga tahun-tahun akan datang.
“Jadi dari hasil project melalui USBP itu akan dibuat pameran sekolah. Misalkan pembuatan maket Universitas Nuku, dan itu sudah di-booking oleh Universitas Nuku, dan banyak project-project yang dilahirkan dari kreativitas siswa,” jelas Mulyono.
Ia menegaskan, siswa kelas 9 dikatakan lulus jika seluruh mata pelajaran telah tuntas, telah mengikuti ujian sekolah berbasis komputer serta USBP.

“USBP itu bukan program kemendikbud, tetapi ini digagas langsung oleh SMP Negeri 1,” katanya.
USBP sendiri digagas lantaran SMP Negeri 1 Kota Tikep telah melihat jauh ke depan program pemerintah. Salah satunya pembelajaran menuju merdeka belajar.
“Merdeka belajar yang dimaksud memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk meningkatkan potensinya, kemudian bagaimana kita mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi abad 21 ini, yang di dalamnya meliputi empat kompetensi di antaranya berpikir kritis, kreatif, kolaborasi dan komunikasi. SMP 1 sudah mulai menyiapkan itu. Salah satunya dengan ujian berbasis project itu,” tegasnya.
Mulyono menginginkan siswa SMP Negeri 1 Kota Tikep menggali potensinya sejak dini. Selain itu, diharapkan dengan penerapan USBP siswa SMP Negeri 1 Kota Tikep sudah mampu berpikir kritis, kreatif, berkolaborasi dan berkomunikasi yang baik sebelum menuju ke jenjang lebih tinggi nanti.
Dengan berpikir kritis, peserta didik sudah dapat memilih masalah. Tanpa berpikir kritis, menurut Mulyono, siswa sulit untuk menentukan masalah. Setelah berpikir kritis siswa kemudian kreatif, atau mulai mendesain masalah, serta komunikasi.
“Jadi ujian nanti, dari hasil project yang mereka buat itu mereka akan presentasi. Misalkan saat ujian tahun kemarin, peserta didik mampu presentasi di depan empat penanya, salah satunya dari Dinas Pendidikan sebagai tim penilai, dan mereka sanggup menghadapi itu, dan semua presentasi menggunakan infocus, setelah melewati itu baru bisa dikatakan lulus,” paparnya.
Ia menambahkan, dengan adanya USBP siswa tidak jenuh belajar dan justru membuat siswa lebih semangat. Karena metode pembelajaran yang tidak hanya fokus tatap muka saja, tetapi ada interaksi langsung antara guru dan siswa layaknya di perguruan tinggi.
“Ini adalah salah satu program Manajemen Berbasis Sekolah yang kami terapkan. Ujian ini tidak ada intervensi dari siapa pun, tapi ini murni dari program SMP 1 yang kami gagas. Tujuan dari pembuatan program ini diharapkan ke depan peserta didik dari kami bisa jauh lebih baik,” pungkasnya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.