“Saat ketemu dua orang nelayan Bere-bere, saya lihat dari jauh mereka merapat ke rumpon saya. Saya bilang di dorang, muat saya, karena saya hanyut dari Sangihe. Terus saya minta tolong dan saya bilang muat akang kita punya barang-barang genset, tong air ada 3, aki ada 2, dan tenaga surya, sama pakaian,” kata dia.

Soal rumpon, Waldus mengaku tak ambil pusing lagi. Rumpon itu ia biarkan hanyut begitu saja.

“Saya kase tinggal di laut saja, yang penting saya selamat. Langsung saya iko deng dorang,” imbuhnya.

Waldus lalu dibawa ke rumah nelayan yang menyelamatkannya. Belakangan, barang-barang miliknya pun diberikan pada nelayan tersebut.

“Barang-barang saya so kase di orang yang kase selamatkan saya. Saya anggap itu sebagai balas budi karena so selamatkan saya. Tapi kalau bos tanya rakit dan barang-barang saya bilang so kase orang Morotai yang kase selamat saya dan saya bertanggungjawab,” ujarnya.

Waldus bilang, jika saat itu air dan berasnya habis dan tak ada yang datang menyelamatkannya, ia sudah pasrah harus mati di laut.

“Istilah orang Manado bilang, so pasrah jo saya di Tuhan. Tapi beruntungnya Tuhan masih kase selamat saya di Morotai,” tuturnya.

“Saya iko ke kampung dan saya pinjam dorang punya HP dan saya telepon di bos namanya Sance. Soalnya saat itu saya simpan bos punya nomor HP saya tulis di kertas. Saya kase kabar saya ada di Morotai dan bos cuma tanya ‘ngana mo pulang kah nyanda?’. Saya bilang mau pulang dan kirim doi jo kamari. Saya minta Rp 2 juta tapi bos tawar Rp 1 juta saja, dan bos kirim uang Rp 1 juta itu pake rekening sodara saya orang Manado yang ada di Desa Bere-bere,” terangnya.

Waldus yang belum menikah ini mengaku sudah yatim piatu. Ia juga merupakan anak tunggal.

Baru bekerja di rumpon seminggu sebelum akhirnya hanyut, gajinya sebesar Rp 1,5 juta per bulan alhasil belum pernah diterimanya.

Menurutnya, ia juga tak dicari majikannya saat hanyut.

“Saya baru kerja di rumpon itu satu minggu dengan kontrak kerja 1 tahun,” akunya.

Beberapa hari di Morotai, Waldus akhirnya kembali ke kampung halamannya. Pada Kamis (28/1) malam ia menumpangi KM Geovani dari Daruba ke Ternate sebelum nanti melanjutkan perjalanan ke Sulut.

Pengalaman hanyut itu membuatnya kapok jadi penjaga rumpon lagi.

“Saya balik (ke kampung) saya bikin kebun saja, tanam ubi dengan sayur saja,” tandasnya.