“Saya langsung masuk di dalam karena takut dapa gigit,” kenangnya.

Waldus mengaku pernah juga ketindihan saat hanyut.

“Waktu di laut di atas rumpon saya banyak tidur biar saya berharap rumpon saya bisa terdampar. Tapi saya bingung karena rokok sudah habis. Saya bawa rokok Surya dua slof dua minggu habis di laut. Pas malam sekitar jam 2 malam saya tidur itu ada ketindisan deng setan. Leher saya dapa ramas saya so mau mati, tapi saya berusaha bangun dan berteriak-teriak, soalnya saya liat ada orang besar sekali di rumpon,” ceritanya.

Pengalaman-pengalaman seperti itu, ditambah mulai menipisnya perbekalan, membuat Waldus terus berdoa segera ditemukan. Ia pernah berpapasan dengan kapal berukuran besar. Namun jaraknya 2 mil sehingga teriakan minta tolong Waldus sia-sia.

“Saat saya satu bulan di laut hujan tiga kali. Saya bingung itu saya punya rokok habis, saya bilang ini di laut mau beli kemana rokok? Terus pas orang Morotai (nelayan yang menyelamatkan Waldus, red) dapa saya langsung saya cepat-cepat minta rokok satu batang. Pas isap saya pusing soalnya so lama tara baisap di laut,” sambungnya.

Ketika mendekati perairan Morotai, ada hiu merapat di kolong rumpon. Ukurannya sekitar 3 meter, Waldus bilang kepalanya besar sekali.

“Saya mohon-mohon biar ikan hiu itu pigi dari rumpon. Sekitar satu jam baru menghilang,” ucapnya.

Pada 24 Januari 2021 sekira jam 10 pagi, doa-doa Waldus terjawab. Dari kejauhan, ia melihat sebuah perahu mendekati rumponnya.

Perahu itu berisi dua nelayan Desa Bere-bere, Morotai Utara. Waldus menangis ketika pertama kali diselamatkan.

“Karena saya masih bisa selamat. Saya berterima kasih ke Tuhan karena masih selamatkan saya,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.