“Saya hubungi teman-teman saya berulangkali, minta pertolongan, tapi tidak ada tindakan. Saya pasrah dan sudah bingung dan ketakutan lagi,” ujarnya.
Saat awal hanyut, bekal makanan di rumpon masih mencukupi.
“Ada beras 1 karung, air 3 tong. Rempah-rempah buat masak sudah habis semua. Kalau beras pas 1 bulan itu dia masih ada sisa 15 kilogram saat saya ditemukan di Bere-bere (Morotai). Kalau air dari 3 tong tinggal tersisa 1 tong tapi isi air sisa sejingkal tangan saya,” tutur Waldus.
Untuk bertahan hidup, Waldus sempat memancing ikan. Di rumponnya memang disediakan alat pancing.
“Saya sambil mancing ikan tuna dan ikan yang alus-alus buat makan di rakit. Saya masak pake gas tabung soalnya saat itu di rumpon ada 4 gas tabung dan selama satu bulan di laut gas bertahan sisa 1 tapi sampe di laut Morotai itu sudah hampir habis juga,” sambungnya.
Di rumpon ia juga dibekali fasilitas genset. Ada bensin 100 liter. Namun setelah terpakai dua minggu, bensinnya habis. Ia terpaksa lanjut pakai aki.
Sebulan terombang-ambing di laut tanpa kepastian nasib jadi mimpi buruk bagi Waldus. Siang dan malam adalah sunyi yang sama.
Ia hanya ditemani debur ombak. Kadang ada lumba-lumba mengikuti rumponnya.
Pada suatu hari, datang burung-burung besar yang hinggap di rumpon. Waldus tak tahu nama fauna tersebut.
Tinggalkan Balasan