“Kemarin awal tahun 2020 kita mengumpulkan ada enam komunitas sanggar seni tetapi berbeda genre yaitu ada seni rupa, seni tari, seni musik dan seni teater dan dibentuk satu lembaga itu semua berbasis ke lembaga seni budaya Moluku Kie Raha,” jelasnya.

Abdurrahman menambahkan, tarian-tarian yang diajarkan komunitas Kapseti, terutama untuk anak-anak SD, tentang tarian dasar yang asli seperti Gala, Dana-dana, Cakalele dan Soya-soya dan selain tarian dari Kapseti juga mengajarkan menyanyikan lagu daerah, Satra Ternate yang ada nilai-nilainya, permainan rakyat dan latihan musik.

“Untuk daya tarik seni ada kejadian kemarin kegiatan musik tradisional musik Indonesia secara daring setelah itu kami lolos ke 10 besar dan ada salah satu peneliti dari Amerika waktu itu ada FTJ di Jailolo ketika balik ke Ternate saya sempat tanya dari semua musik etnik yang dilihat itu mana yang berkesan dan dia menjawab alat musik yanger,” pungkasnya.

Ketua GenPi Malut Sofyan Ansar menambahkan, wisata yang ada di Malut tidak perlu diragukan lagi karena masih bisa bersaing dengan daerah-daerah lain. Karena itu, rekomendasi untuk membuat forum promosi dan pemasaran parawisata yang harus didorong.

“Dinas terkait juga harus memperbanyak kegiatan-kegiatan kampanye sadar wisata karena rata-rata masyarakat yang ada di Maluku Utara ini belum sadar tentang pentingnya pariwisata dan efek multiplay,” terangnya.

Dari FGD tersebut, pemulihan pariwisata Malut juga perlu ditandai dengan pengembangan gaya baru. Diantaranya adalah membentuk Destination Management Organization (DMO) di Malut. Hal ini ditegaskan Direktur DKI Thamrin Ali Ibrahim.

“DMO menyuplai segala bentuk database kepariwisataan di suatu destinasi dan DMO menjadi kunci strategis pengelolaan destinasi,” ungkap Thamrin.

Selain itu, hasil FGD juga bakal ditindaklanjuti dengan pembentukan Badan Promosi Pariwisata Daerah dan Malut Meeting Tourisme.

“Badan Promosi Pariwisata Daerah ini perlu SK dari Gubernur. Bentukannya bisa gabungan dari unsur pemerintah, swasta, stakeholders pariwisata, LSM, dan lain-lain,” sambungnya.

Kemudian, Thamrin berujar, perlu adanya Kelompok Kerja Percepatan Pemulihan Pariwisata Malut. Rencananya, pekan depan mulai digelar tahapan pembentukan Pokja.

“Tentu dengan melibatkan multi stakeholders,” tandas Thamrin.