“Tetapi saya ada menulis sebuah buku tentang ekspedisi Magelhaens dan Poros Perdagangan Spanyol di Tidore. Saya ingin angkat Spanyol di Tidore. Kalau di Ternate, mereka mengangkat tentang Inggris. Dan hari ini, Pemerintah Indonesia mengusulkan jalur rempah dan disahkan pada tanggal 11 Desember 2020 lalu. Itu karena Tidore telah melakukan kontak dagang dengan Spanyol, dan di situ Tidore diketahui dunia,” paparnya.

Pengesahan itu seiring dengan pengakuan adanya 1.500 kuintal cengkeh yang diekspor dari Tidore ke Spanyol.

“Saya menyebutkan kuintal dan dikonversi ke hitungan ton, dia kena 27 ton. Dari 27 ton itu apakah termasuk dengan pemberian Sultan Almansyur kepada Raja Spanyol. Sebab Sultan punya 100 kuintal, tidak terlepas dari 1.500 kuintal. Dan apakah pemberian itu, Sultan sempat mengirim 100 kuintal cengkeh dan beberapa ekor burung dan di pucuk Sultan Almansyur ke Raja Spanyol,” tutur Irfan.

Di balik ekspor cengkeh itu, kata Irfan, ada pula 15 orang Tidore yang ikut kapal tersebut ke Spanyol.

“Apakah orang-orang Tidore kawin di sana, dan beranak cucu di sana? Ini mestinya menjadi kajian yang luar biasa untuk mencari tahu ke-15 orang Tidore yang bersama dengan orang-orang Spanyol waktu itu. Kemungkinan besar mereka masih hidup. Karena narasi-narasi kesejarahan itu, orang Spanyol pada umumnya kadang menulis sejarah hanya dengan ketokohan mereka sendiri,” ungkapnya.

Menurut Irfan, ia sempat memeriksa beberapa dokumen dan menemukan 15 orang itu, nama-nama mereka ditulis secara spesifik. Tetapi tak disebutkan dalam ekspedisi itu.

“Tidore jauh sebelum Nuku, ekspansi yang memenangkan pertempuran di laut maupun di darat, dan sebetulnya jauh sebelumnya ketika di masa Sultan Almansyur Tidore sudah cukup melakukan manuver politik sampai ke Papua. Di masa Sultan Almansyur di tahun 1521, masa puncaknya berada di Almansyur bahkan dia melakukan hubungan diplomasi politik sampai di Papua dan Papua Barat maupun di Seram dan sampai di Sula.”

“Di saat itu, orang Ternate sempat mengirim pasukannya ke Sula di abad ke 17, tapi orang Tidore lebih dulu masuk. Bukan membanding-bandingkan, tetapi faktanya seperti itu,” urai Irfan.

Syahidussahar yang akrab disapa Ko Jojo menambahkan, event amal yang digagas Amorfati ini prinsipnya mengkonsolidasi para komunitas dari mana saja, tanpa melihat dia dari mana untuk berkolaborasi, dan mengembalikan Tidore tempo doeloe.

“Yang terpenting, mereka seharusnya tetap mengkonsolidasi berbagai komunitas budaya yang terlibat dalam pertujukan seni. Bahwa latar belakang gubuk dengan berbahan bambu dan beratap katu itu mengingatkan kita terus diperbincangkan agar kita tahu siapa kita sebenarnya,” jelasnya.

Menurut Syahidussahar, kemajuan tetap perlu ruang-ruang untuk mengoreksi kembali siapa kita sebenarnya. Terlepas dari kekurangan dan kelebihan, kita memang terus mendorong performance ini agak berbeda, terutama di komunitas-komunitas yang terlahir di Tidore.

“Dengan harapan jelang 500 tahun Sail Magelhaens, tentunya ini bisa berkontribusi terhadap bagaimana membangun inisiatif kebudayaan bersama,” tandasnya.(*)