Agak malu hati, karena saya datang tak memakai kemeja lengan panjang dan songkok. Namun bagi saya yang terpenting adalah sopan santun dalam berpakaian sudah cukup.
Pikir saya, kalau hadir di malam itu, dengan penampilan begitu, bakal tak diizinkan masuk. Tetapi hal itu justru terbalik dan saya terus menyaksikan malam itu dengan penuh khidmat.
Masyarakat maupun anak-anak muda dari kampung lain berdatangan. Orang-orang berkumpul mendengarkan, menyimak, lalu menghayati penampilan musik maupun puisi-puisi yang membungkam malam itu yang dikemas menjadi Tidore Tempo Doeloe.
Rumah yang beratap katu dan berdinding bambu itu dibuat oleh anak-anak muda Amorfati 2, dengan tujuan kecintaan terhadap tanah dan negeri To Ado Re (aku telah sampai).
Di depan, pemuda yang tak asing di mata rakyat Tidore, yaitu Astho dan Firau, didapuk menjadi pembawa acara. Dengan baju putih dan sarung, menurut saya mereka mencoba mengajak anak-anak muda kembali merefleksikan Tidore Tempo Doeloe. Begitulah ciri-ciri rakyat di masa itu dengan pakaian yang begitu sopan dan santun.
Suasana malam membuat haru. Mendengar bunyi rababu, gitar, dan suara-suara yang membungkam. Irama demi irama dimainkan dengan tenang. Lebih khusuk, ketika saya mendengar lantunan puisi dari D’facto dan lagu yang dibawakan oleh Simple Accoustic serta beberapa teman-teman yang tampil di malam tempo doeloe.
Ko Means, dengan sapaan akrabnya, menghadirkan suara khas, menggetarkan, lalu memukul batin sampai tembus jantung. Sampai membawa duka. Membawa luka dan sampai membuka mata kita.
Saya mendengar secara saksama. “Jou no tagi, jou no tagi sema barakati, ma barakati ngofa se dano e”. Ditambahkan zikir, mengantarkan saya mengingat kembali gosimo no yuke ia na borero.
Selanjutnya, di penghujung malam tempo doeloe, ada bacarita sejarah. Amorfati mengundang dosen dari Universitas Khairun, Irfan Ahmad, Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tidore Kepulauan Yakub Husain, serta moderator Syahidussahar.
Sebagai pembuka, Irfan Ahmad menjelaskan sebelumnya dia bersama Syahidussafar dan Yakub Husain mendampingi orang-orang dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tujuan mereka adalah mendokumentasikan jalur rempah.
Selama mendampingi orang-orang dari Kemendikbud, mereka akan menyusun jalur rempah di Unesco tahun 2025, dan Tidore salah satu daerah yang masuk dalam daftar jalur rempah tersebut.
“Kita lihat, Tidore seperti yang diceritakan di berbagai naskah telah memilik hubungan erat, baik dengan orang Cina maupun orang Eropa di masa itu. Tetapi dari narasi sejarah itu, Tidore masih tersimpan kebudayaan yang hampir punah,” kata Irfan.
Dalam komunitas ini, kata Irfan, mereka lebih konsen pada kesenian dan kebudayaan Tidore.
“Saya menyarankan ada tiga tarian yang perlu dikaji, diantaranya tarian Raba Nyonya, Dadansa, dan Katreji sebagai bentuk tawaran di Sail Tidore untuk dipentaskan di berbagai titik,” ucapnya.
Lebih jauh Irfan mengatakan, dari pokok-pokok pikiran Tidore itu sampai mereka membuat dokumenter jalur rempah.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.