Tandaseru — Kematian siswa Bintara Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Maluku Utara, MRA (19 tahun) membuat nama dr. Endang Kristanti, dokter spesialis saraf RSUD Chasan Boesoirie ikut terbawa-bawa. Pasalnya, dr. Endang disebut sebagai pihak yang mendiagnosis MRA mengidap epilepsi dan Covid-19.
Pihak keluarga MRA pun mengadukan dr. Endang ke Polda Malut lantaran dinilai membuat diagnosis yang keliru.
dr. Endang yang ditemui di ruang kerjanya, Rabu (16/12), membantah tudingan tersebut. Ia menegaskan tak pernah mendiagnosis atau merekomendasikan bahwa pasien MRA mengidap epilepsi dan Covid-19.
dr. Endang menjelaskan, saat itu dirinya mendapat laporan dari dokter di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD CB bahwa ada pasien yang tingkat kesadarannya menurun dan didapatkan tanda-tanda kaku kuduk berdasarkan hasil laboratorium. Ia kemudian menyarankan untuk dilakukan Computerized Tomography (CT) Scan kepala.
“Dan langsung dirujuk ke Intensive Care Unit (ICU). Tapi saya belum sempat lihat pasien itu. Begitu saya mau ke IGD untuk lihat pasien itu, dokter IGD katakan bahwa pasiennya sudah meninggal. Jadi saya belum sempat lihat ini pasien,” jelas dr. Endang.
Disentil terkait diagnosis penyakit epilepsi dan Covid-19, dr. Endang menegaskan ia tidak pernah mendiagnosis MRA mengidap dua penyakit tersebut.
“Tetapi pasien tersebut masuk dalam kesadaran menurun dan kejang. Jika kesadaran menurun pasti terjadi sesuatu di otak pasien. Infeksi itu bisa membuat kesadaran seseorang menurun,” terangnya.
“Kami hanya menegakkan pasien tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan fisik bahwa ada kesadaran menurun, ada tanda-tanda kaku leher, ada peningkatan sel darah putih dan infeksi. Kami curiga bahwa kesadaran menurun itu karena radang otak (ensefalistis) dan selaput otak. Itu bisa menyebabkan kejang. Penyebabnya itu karena virus kah, infeksi kah, kami belum tahu,” jabarnya.
dr. Endang juga membantah dirinya pernah memberi rekomendasi ke Polda Malut bahwa pasien MRA mengidap Covid-19 dan epilepsi. Ia hanya menyatakan pasien ensefalistis atau radang otak.
“Saya hanya memberikan pernyataan bahwa pasien ini meninggal karena ensefalistis dan itu baru dicari tahu apakah karena bakteri atau virus, dan belum terlaksana karena pasien keburu meninggal,” urainya.
Menurut dr. Endang, baik dirinya maupun rumah sakit tidak penah merekomendasikan pasien juga mengidap Covid-19.
“Kami hanya melakukan pemeriksaan awal terhadap pasien dan tidak ada rekomendasi penyebab pasien meninggal karena Covid-19. Jadi kalau ada informasi pasien meninggal karena Covid-19, itu tidak benar,” pungkasnya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.