Tandaseru — Pemerintah Indonesia tengah gencar mengkampanyekan pengembangan pangan lokal. Salah satu caranya adalah dengan mengganti konsumsi nasi dengan sagu, ubi, jagung, atau pisang.
Di Provinsi Maluku Utara, Dinas Pangan Malut menggelar Gerakan Diversifikasi dan Ekspos UMKM Pangan Lokal, Rabu (19/8) di Taman Nukila Ternate. Kegiatan ini bertujuan mendorong kemandirian dan stabilitas ketahanan pangan di daera.
Dalam sambutannya, Sekretaris Provinsi Samsuddin A. Kadir yang mewakili Gubernur menyatakan, diversifikasi pangan bertujuan memperkuat ketahanan pangan nasional. Gerakan ini merupakan gerakan moral masyarakat yang harus dijalankan semua orang untuk membangun dan mempersiapkan infrastruktur pangan atau pertanian Indonesia yang lebih baik.
“Negara kita adalah agraris dan mayoritas penduduknya adalah petani, maka diversifikasi pangan adalah gerakan moral yang akan memberi dampak pada ekonomi yang lebih besar serta mampu memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari bagi masyarakat,” katanya.
Dia bilang, dengan pemenuhan gizi yang baik akan dapat meningkatkan imunitas masyarakat sehingga dapat melindungi dirinya sendiri dari penyebaran Covid-19.
“Kondisi ini juga merupakan konsep yang efektif dalam pencegahan dan penanganan pengendalian pandemik Covid-19,” ungkapnya.
Samsuddin menambahkan, dengan melibatkan Iembaga dan pemangku kepentingan lainnya seperti UMKM akan dapat meningkatkan perluasan berbagai komoditas pangan yang ada di masyarakat.
“Dalam situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, masyarakat harus mampu memanfaatkan lahan sempit dan pekarangan sebagai tempat bercocok tanam baik sayur maupun buah-buahan dan lainnya,” jelasnya.
Senada, Kepala Dinas Pangan Provinsi Maluku Utara, Sri Haryanti Hatari menyatakan kegiatan gerakan pangan lokal dicanangkan Menteri Pertanian di seluruh Indonesia. Tujuan dari kegiatan ini adalah kembali kepada pangan lokal yang selama ini sudah mulai dilupakan oleh masyarakat.
“Dengan kondisi saat ini, pangan lokal menjadi sasaran kita untuk mengatasi perekonomian saat ini,” ungkapnya.
Dia mengaku, paradigma masyarakat saat ini, jika orang belum makan nasi berarti belum kenyang. Paradigma tersebut, imbuhnya, harus diubah.
“Jadi cara pikir ini harus diubah. Tanpa nasi juga kita bisa kenyang dengan mengkonsumsi pangan lokal seperti pisang, ubi-ubian, sagu dan jagung,” tandasnya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.