Nyanyian Mei

Yanto menceritakan maksud perjalanan mereka saat ini. Yanto merupakan pro guide dan tugasnya saat ini mengantarkan anak-anak “orang kaya”. Haha, istilah orang kaya ia sematkan kepada Mei dan ketiga temannya.

Malam pun tiba. Ranting dan batang pohon kering yang telah kami siapkan untuk menghangatkan tubuh dinyalakan.

Yanto berbagi pengalaman perjalanannya, disisipi cerita-cerita lucu ala pendaki. Ini sangat khas. Aris dan Suci terbahak dibuatnya. Mei selalu berbeda, ia lebih banyak tersenyum. Suaranya susah untuk didengar. Kata terakhir darinya hanya ketika memberiku semangkuk sup saat makan bersama tadi.

“Bang In, kenapa bisa sampai ke sini?”

Pertanyaan Suci sepertinya mewakili rasa heran kru pendaki orang-orang kaya ini. Semua menunggu jawabku.

“Wah, tiba giliran saya yah. Saya sama kok kayak si Yanto. Sering jalan. Sampai di sini. Akhirnya lupa jalan pulang.”

Mereka menunggu lanjutan ceritaku. Mei pun sama. Fokus matanya yang sedari tadi melihat nyala api berubah menatap padaku. Sinar api membuat wajah dan bibirnya menyala merah. Untuk sesaat aku menikmati moment ini.

“…. Saya tidak punya cerita seru seperti Yanto”. Semuanya meggerutu.

“Payah, tidak seru si Abang.”

Mei kembali tersenyum. Pandangannya beralih lagi pada nyala api itu. Hanya tersenyum. Kenapa aku tidak lanjutkan ceritanya saja coba, agar Mei tetap memandangiku. Duh, senyum itu.

Di penghujung malam, api unggun kian mengecil kami sepakat untuk istirahat. Semua kembali masuk ke tendanya. Akupun sama.

Untuk mencari tidur yang lelap, kebiasaan ku membaca beberapa lembar halaman dari buku favoritku.

Di luar terdengar res tenda terbuka, seseorang melangkahkan kakinya. Suara petikan gitar terdengar. Penasaran kubuka res tenda pelan, mengintip seorang wanita di sana, menghadap ke arah api yang tinggal bara. Wanita yang sedari pagi tidak banyak bicara itu tengah memainkan sebuah gitar yamaha berwarna hitam kebiruan. Suaranya pelan, terdengar In My Place nya Coldplay.

“…I was scared, I was scared

Aku takut

Tired and under-prepared

Lelah dan tidak siap

But I’ll wait for it

Tapi aku akan menunggu untuk itu

If you go, if you go

Jika Kau pergi

Leave me down here on my own

Meninggalkan aku di sini aku sendiri

Then I’ll wait for you, yeah.

Lalu aku akan menunggu mu

Yeah, how long must you wait for it?

berapa lama Kau harus menunggu untuk itu?

Yeah, how long must you pay for it?

berapa lama Kau harus membayar untuk itu?

Yeah, how long must you wait for it, oh, for it?

berapa lama Kau harus menunggu untuk itu?

Singing

Nyanyikan

Please, please, please

Aku memohon, memohon

Come back and sing to me

Kembali dan bernyanyilah untukku

To me, to me

untukku

Come on and sing it out, now, now

Datang dan nyanyikan itu, saat ini juga

Come on and sing it out to me, me

Datang dan nyanyikan itu kepada ku

Come back and sing it

Datang kembali dan nyanyikanlah

In my place, in my place

Di tempatku, di tempatku

Were lines that I couldn’t change

Garis-garis bahwa aku tidak bisa mengubah apapun

And I was lost, oh yeah

Dan aku hilang

Untuk sesaat napasku tertahan, pikiranku menjadi kacau, pipiku terasa basah, mataku sembab dibuatnya. Apa yang tengah membuatnya bisa selarut ini. Apa yang terjadi kepada Mei. Aku merasakan perih dan sakitnya Mei melalui lagu yang dinyanyikannya. Siapapun itu, yang mendengarkannya akan sama. Niat untuk keluar menghibur Mei kuurungkan. Siapa aku? Mei butuh sendiri saat ini.

“Mei, kamu harus tahu dunia ini begitu banyak kesedihan dan begitu juga dengan kebahagiaan….” Aku terlelap dalam doa untuk Mei.

Orang yang menolongku ketika tersesat dulu tersenyum padaku, rambut panjangnya menutup wajahnya, menyebut namaku berulang kali.

“Bang In… Bang In… Bangun Bang!””

Suara Suci dari luar tenda terdengar panik.

“Kenapa Ci?””

“Mei hilang, Mei tidak ada. Setelah keluar dan bermain gitar semalam, sepertinya Mei tidak balik lagi ke dalam tenda….””