Tersesat

“Kopi, bang.””

Yanto menawariku kopi yang ada di genggamannya terdapat dua gelas kopi, teman-temannya yang lain sedang asik mengambil foto dengan kamera DSLR-nya. Masing-masing dari mereka memegang satu kamera. Aris memegang kamera dengan lensa yang sangat panjang, sementara Suci dan Mei memegang kamera berlensa standar.

“Wah, makasih.””

Dari aromanya kopi ini begitu nikmat gumamku dalam hati, ku hirup pelan sebelum menyeruputnya.

“Kopinya mantap. Kopi dari mana nih?””

“Itu kopi dari kampung, bang, resep keluarga. Sebenarnya tidak ada yang spesial. Racikan nyokap kadang memang selalu double mantapnya.””

“Oh, pantesan.”

“Rokok, bang?””

“Saya nggak ngerokok, bro.””

“Oh ya, bang, mas Edi nitip salam.””

Mas Edi.

Sial, aku diejeknya. Pasti dia begitu puas menertawakanku saat ini. Aku dan Yanto bercerita track jalan sepanjang menuju ke sini. Tempat ini memang dulu digunakan sebagai tempat bersemedi orang-orang di desa. Sampai saat inipun warga desa masih menggunakannya, selain sebagai jalan pergi ke kebun juga sebagai jalan menuju tempat spiritual ini. Sehingga jalan yang dilalui bisa dengan mudah dilintasi, walaupun ada beberapa jalan yang bercabang tetapi setelah tiba di sini aku berinisiatif untuk memberi petunjuk dengan memasang tanda, kalau-kalau ada orang baru yang nanti tersesat.

Bagaimana tidak kepikiran sebelumnya aku pernah tersesat di hutan ini. Beruntung aku dapat kembali dan orang-orang desa menolongku yang memang berantakan setelah delapan belas hari aku tertatih-tatih. Pengetahuanku tentang navigasi hilang setelah panik dan lapar melanda. Perjanjianku dengan orang-orang desa bahwa aku akan kembali ke desa dalam seminggu membuat mereka mengkhawatirkan ku dan memutuskan untuk mencariku. Setelah pencarian berhari-hari, upaya mereka gagal.

Aku oleh warga desa kali ini dipasrahkan kepada Tuhan untuk menuntunku kembali. Ritual keagaamaan pun diadakan dengan harapan hutan akan memulangkan pemuda yang menyedihkan ini.

Dedaunan, akar, dan apapun yang ku anggap dapat untuk dimakan ku lahap habis semua. Tiba-tiba saja semua menjadi gelap, aku tak mampu mengontrol pikiran dan tubuhku, akupun ambruk. Saat itu Aku telah pasrah untuk mati, ku pikir inilah waktunya.

Seseorang yang tak ku kenal membangunkanku, lebih tepatnya memaksaku bangun, menarik keras tanganku. Samar aku melihatnya, ku pikir ini hanyalah halusinasi di tengah hutan. Sebelum akhirnya kesadaranku kembali dan bergegas berjalan, sampai akhirnya aku kembali ke desa dengan keadaan yang mengenaskan. Aku ambruk untuk yang kedua kalinya, seluruh badanku mati kaku. Warga menggotongku, sosok itu, yang membantuku di tengah hutan turut berada di sana, di antara warga, memberi ku sebuah senyum.

***