Mei

Pagi telah tiba, semesta bergerak mencari penghidupan. Suara tawa dari kejauhan terdengar. Tenda yang ku pasang kemarin sore tidak kugunakan menjadi ruang tidur, aku memilih untuk tidur tepat di depan tenda bukan karena sengaja. Aku terlalu lelah untuk memindahkan tubuhku ke dalam tenda. Suara-suara itu semakin terdengar jelas, sementara waktu  menunjukkan pukul delapan lebih sedikit.

Ku perhatikan dari jarak kurang lebih 30 meter, dua pasang pendaki dua lelaki dan dua wanita menuju ke tempatku saat ini. Aku meraba wajah kusam dan kumalku, sepertinya jelek sekali rupaku. Ingin sekali aku memotong rambut gondrongku ala Ariel Noah, mencukur habis kumis dan jenggot yang menempel di wajah seklimis mungkin, biar tampil bak artis korea. Alah, sudahlah kita juga tidak saling mengenal gumamku.

“”Halo, bang.””

Salah satu di antara mereka menegur dan yang lainnya hanya melempar senyum.

“”Halo.””

“”Sendiri aja, bang?””

“”Yup, sendiri.””

Kami pun saling memperkenalkan diri, lelaki yang sejak awal telah ramah denganku bernama Yanto, ada Aris, Suci dan juga Mei. Dari keempat tamuku hari ini aku memperhatikan seorang Mei, aku menyukai cara Mei ketika menatap, aku menyukai Mei ketika dia menyebut namanya Mei dan aku juga menyukai Mei ketika tersenyum padaku, caranya berbeda. Aku hanya menyukai apa yang dilakukannya saat ini, semuanya tentang tindak lakunya membuat aku suka begitu saja.

Baru aku sadar sekarang, seharusnya aku mencukur rambutku, andai saja tawaran mas Edi kuindahkan. Orang di desa yang telah menjadi karibku selama aku di sini. Aku mengingat percakapan kami sebelum ke tempat ini.

“Mas, cukurlah sedikit rambut-rambutmu itu.””

“Buat apa? Aku tetap ganteng kok seperti ini.””

“Siapa tahu ketemu wanita cantik di hutan.””

“Mana ada wanita cantik di hutan, mas. Yang ada babi dan kawanan hewan lainnya. Ada-ada aja si mas.””

“Kan cuman nyaranin. Nanti nyesel loh, mas. Selain mas banyak juga pendaki ke sini. Walaupun tempat ini berada di pedalaman, orang-orang macam mas ini sering juga ke sini loh.””

“Hmm, mas, aku di sini sudah sekitar enam bulan lebih dan tampaknya orang-orang yang mas maksud itu benar-benar ada, yaitu aku. Aku jalan dulu keburu malam nanti.””

Mas Edi pasti puas menertawaiku sekarang. Yanto dan teman-temannya mulai membuka isi tas, memasang dua tenda dan menyiapkan segala peralatan camping lainnya. Sementara aku memilih mengambil peralatan mandi dan menuju ke bagian yang agak menurun dari tempatku saat ini.

Sumber air yang keluar dari bebatuan yang menjadi tempat mengambil air minum dan kebutuhan lainnya ketika masyarakat bepergian ke hutan ini oleh masyarakat di sini bernama Telaga Bohe.

Aku jarang sekali untuk mandi, lebih sering hanya mengelap badan. Tergantung kondisi dan suasana hati. Seingatku terakhir kali aku mandi tiga hari yang lalu saat tiba di sini. Kali ini aku memilih untuk merendam seluruh tubuhku selama mungkin, menikmati tempat ini, juga memperganteng diri walaupun nanti tidak semaksimal menuju ganteng yang sebenarnya.