Tandaseru — RSUD Ir. Soekarno Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, dikeluhkan lantaran menarik biaya visum bagi korban kekerasan. Tak tanggung-tanggung, biaya visum yang dibebankan pada korban mencapai Rp 500 ribu.

Salah satu korban penganiayaan, Laode Deliono, mengaku melakukan visum di RSUD Ir. Soekarno pada 29 Agustus 2025 pukul 19:30 WIT. Padahal, pemerintah daerah Morotai menerapkan kebijakan layanan kesehatan gratis.

Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Morotai IPDA Rusdi Madi ketika dikonfirmasi tandaseru.com membenarkan adanya laporan dugaan pungli terhadap sejumlah pasien.

“Iya benar, ini terkait dengan uang visum. Kami sebagai polisi yang mendampingi pasien juga kaget, kok ada biaya visum? Satu bulan lalu korban salah satu warga Juanga,” ungkapnya, Sabtu (20/9/2025).

Saat itu, kata dia, korban penganiayaan membuat laporan polisi. Polisi lantas mengantar korban ke rumah sakit untuk visum.

“Sampai di sana terus pemeriksaan selesai kemudian dari pihak rumah sakit malam itu meminta sejumlah uang Rp 592 ribu,” terang Rusdi.

Padahal di Morotai, menurutnya, ada kebijakan Pemda terkait kesehatan gratis. Anehnya, masih ada pungli terhadap pasien.

“Mereka sebagai korban akibat dari tindakan pidana, toh kenapa mereka harus dibebankan lagi? Korban saat itu uangnya cuma Rp 200 ribu sampai titip HP di petugas kesehatan,” beber Rusdi.

Pekan kemarin, sambungnya, anggota SPKT kembali mengantar korban lain melakukan visum di RSUD. Lagi-lagi korban dimintai biaya juga.

“Dari pasien tidak bawa uang, dan anggota mencoba bicara di petugas kesehatan mereka tidak mau. Karena kalau tidak bayar maka pasien tidak diizinkan pulang,” jelasnya.

“Persoalan ini kami juga sudah bahas sebulan lalu dan dari pimpinan agar pihak Reskim mencoba koordinasi dengan pihak-pihak terkait dalam hal ini Pemda Morotai maupun pihak rumah sakit terkait hal ini,” tandas Rusdi.

Sementara Direktur RSUD Ir. Soekarno, dr. Diana, yang dikonfirmasi terpisah mengarahkan agar mengonfirmasi ke kasir rumah sakit.

“Pungli dimana? Oh mengenai visum, coba tanya di bagian kasir. Jadi kalau lebih baik hari Senin di kantor saja, jadi lebih baik di kantor, jangan ditelepon, bisa salah tangkap,” ucapnya.

Sahril Abdullah
Editor
Irjan Rahaguna
Reporter