(Catatan Hari Bumi)
Oleh: Mansyur Armain
______
RANTAI kesejahteraan manusia dikaitkan dengan makhluk hidup lainnya, tidak terlepas dari makhluk hidup dan ekosistem saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain. Ruang edukasi adalah kajian yang melibatkan flora dan fauna, tanpa melepaspisahkan di antara keduanya.
Hubungan timbal balik antara makhluk hidup manusia mempunyai kekuatan, saling mendorong interaksi antar sesama lingkungan, maupun makhluk hidup lainnya, baik di daratan maupun di lautan sebagai rantai ekologi. Semenjak krisis ekologi yang melanda Halmahera Timur yang dilakukan oleh PT Aneka Tambang menjadi perhatian, baik di kalangan akademisi maupun Jurnalis.
Ruang hidup hutan berubah menjadi lumpur. Aktivitas ikan yang berada di hutan mangrove punah. Salah satunya adalah faktor lain, seperti eksplotasi pertambangan tanpa mempertimbangkan efek dan dampak lingkungan terhadap masyarakat. Misalnya yang terjadi di Desa Maba Pura Kecamatan Maba Kabupaten Halmahera Timur sebagaimana diungkap dalam Media Halmaherapost, 8 April 2021 bahwa lokasi Moronopo itu terdapat 3 anak sungai yang bermuara ke Moronopo. Sebelum ditambang, kondisi sungai tampak jernih.
“Itu semua mulai sejak tahun 2006, setelah perusahaan hadir pada 2005.”
Menurut artikel tersebut, lumpur tersebut berasal dari hulu, lokasi PT Sumber Daya Arindo dan PT Semarak Tenkindo Nusantara, subkontraktor PT Antam beroperasi.
“Dua perusahan ini yang aktif mengeruk Moronopo.”
Tetapi sekarang pola hidup masyarakat nelayan sudah berubah, terutama nelayan ikan ngafi (teri).
Bahkan salah satu perusahaan yang mati lalu timbul kembali di tahun 2021, seperti PT Shanatova Anugerah yang berlokasi di Desa Aketobato Kecamatan Oba Tengah sempat memberikan ruang bagi masyarakat untuk bernapas. Tetapi hutan dan lahan masyarakat di sekitarnya dibiarkan dieksplorasi tanpa mempertimbangkan keselamatan warga yang berprofesi sebagai petani dan nelayan.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.