Tandaseru — Ratusan tenaga medis berstatus tenaga kontrak daerah (TKD) di RSUD Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara, akhirnya melakukan mogok kerja, Jumat (2/4). Akibat mogok kerja tersebut, sejumlah pasien gagal mendapatkan pelayanan kesehatan.

Mogok kerja itu sendiri dipicu adanya tunggakan pembayaran hak-hak tenaga kesehatan seperti gaji dan uang jasa medis. Dimulai hari ini, aksi mogok rencananya dilakukan hingga tuntutan pembayaran hak terpenuhi.

Pantauan tandaseru.com, sekira pukul 09.00 WIT aktivitas pelayanan kesehatan di RSUD tampak sepi. Sebab hanya pegawai berstatus ASN yang beraktivitas.

Kondisi ini tampak di ruang unit gawat darurat (UGD), poli kebidanan, ruang operasi, ruang interna (penyakit dalam), ruang bedah, ruang perawatan anak, laboratorium, radiologi, ruang gizi, isolasi Covid-19, hingga apotek.

Ruang isolasi Covid-19 RSUD Morotai hanya dijaga ASN saat aksi mogok kerja. (Tandaseru/Irjan Rahaguna)

Sementara poli umum atau rawat jalan ditutup karena bertepatan dengan tanggal merah.

Sekira pukul 9.30, pasien dan keluarga yang datang ke RSUD mulai mengeluhkan kondisi tersebut.

“Papa saya datang kontrol, tapi kami terpaksa pulang karena tidak ada petugas. Padahal kami datang kontrol karena obat sudah habis,” ungkap Adi, warga Desa Sabala, Kecamatan Morotai Selatan saat ditemui di lingkungan rumah sakit.

Poli umum RSUD Morotai yang tampak sepi saat aksi mogok kerja. (Tandaseru/Irjan Rahaguna)

Adi bilang, seharusnya tidak usah libur meskipun tanggal merah. Sebab jika ada kebutuhan pengobatan masyarakat akan kesulitan mendapatkan pelayanan.

“Ini kan masyarakat tiap hari masuk berobat, tapi hari ini tidak ada petugas. Kami kecewa karena sudah datang jauh-jauh dari Desa Sabala,” akunya.

“Sudah buang anggaran, tapi sampai sini tidak ada satu pun yang layani,” sambung Adi.