​Tandaseru  — Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) tidak hanya berdampak buruk bagi kelestarian lingkungan, tetapi juga memicu ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama pada sistem pernapasan.

​Praktisi Kesehatan Maluku Utara, dr. Fatir M. Natsir, menjelaskan bahwa paparan asap Karhutla mengandung kadar karbon tinggi yang mengikat oksigen menjadi karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO₂). Kondisi ini menyebabkan penurunan pasokan oksigen yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia.

​”Kurangnya asupan oksigen membuat sel, jaringan, dan organ tubuh tidak terpasok dengan baik sehingga seseorang menjadi mudah lelah. Kondisi ini dapat memperburuk anemia serta memicu hipoksia yang ditandai dengan kulit atau tubuh terlihat pucat,” ujar dr. Fatir.

​Ia menambahkan, dampak paparan asap Karhutla juga dapat memicu reaksi alergi pada organ penglihatan dan pernapasan, seperti mata berair, mata merah, hidung tersumbat, flu, hingga batuk.

​Kondisi yang lebih berat dapat memicu hiperkapnia, yaitu peningkatan kadar CO₂ dalam darah. Jika paru-paru tidak mampu mengeluarkan CO₂ secara optimal, pasien berisiko mengalami asidosis respiratorik atau peningkatan kadar asam dalam darah yang dapat menyebabkan penurunan kesadaran.

​Menurut dr. Fatir, kelompok yang paling rentan terhadap paparan asap Karhutla adalah ibu hamil, penderita alergi, anak-anak, dan lanjut usia (lansia). Pada ibu hamil, kekurangan asupan oksigen sangat membahayakan keselamatan ibu maupun janin hingga berisiko fatal.

​Untuk mengantisipasi dampak buruk tersebut, dr. Fatir mengimbau masyarakat agar membatasi aktivitas fisik dan olahraga di luar ruangan. Anak-anak sekolah juga diwajibkan menggunakan masker saat beraktivitas di luar gedung. Jika memungkinkan, masyarakat disarankan berada di dalam ruangan yang dilengkapi penyaring udara seperti air purifier atau air conditioner (AC).

​Mengenai Alat Pelindung Diri (APD), masker jenis N95 sangat direkomendasikan karena mampu menyaring hingga 95 persen partikel berbahaya di udara serta menahan partikel kecil berukuran hingga 0,3 mikron. Apabila polusi asap berada pada tingkat sangat berat, penggunaan masker respirator sangat disarankan. Adapun masker medis standar hanya diperbolehkan untuk penggunaan berdurasi singkat.

Sahril Abdullah
Editor
Sahril Abdullah
Reporter