Tandaseru – Semangat investasi generasi muda kembali bergelora di Kantor OJK Provinsi Maluku Utara. Dalam rangka memperingati World Investor Week (WIW) 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku Utara bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Maluku dan Phintraco Sekuritas Cabang Ambon menggelar kegiatan Literasi dan Inklusi Keuangan Pasar Modal bagi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Ternate, Sabtu (10/10/2026).
Mengusung tema “Investor Resilience, Digital Deception, dan Scam Alert“, kegiatan yang juga menjadi bagian dari rangkaian Bulan Inklusi Keuangan dan Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GenCarkan) ini menghadirkan tiga narasumber untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan dasar pasar modal, mulai dari produk investasi syariah hingga praktik langsung bertransaksi saham.
Mengawali sesi, Sukma Aji Wirawan, Asisten Direktur OJK Provinsi Maluku Utara, memperkenalkan peran OJK sebagai lembaga yang mengatur, mengawasi, dan melindungi seluruh kegiatan di sektor jasa keuangan, mulai dari perbankan, pasar modal, hingga industri keuangan non–bank, melalui 39 kantor yang tersebar di seluruh Indonesia.
Ia menjelaskan, pasar modal pada dasarnya mempertemukan pihak yang membutuhkan dana jangka panjang dengan pihak yang ingin berinvestasi melalui berbagai instrumen seperti saham, reksa dana, obligasi, dan sukuk. Di sisi lain, Sukma mengingatkan mahasiswa tetap waspada terhadap investasi ilegal yang kerap menjanjikan keuntungan tidak wajar dalam waktu singkat tanpa risiko, serta memanfaatkan skema member–get–member maupun nama tokoh masyarakat untuk menarik korban.
“Pastikan setiap produk keuangan memenuhi prinsip 2L, yaitu Legal dan Logis sebelum memutuskan untuk berinvestasi,” pesannya, seraya mengajak mahasiswa melaporkan setiap indikasi aktivitas keuangan ilegal melalui Kontak OJK 157, Indonesia Anti-Scam Centre (iasc.ojk.go.id), maupun SIPASTI (sipasti.ojk.go.id).
Sesi berikutnya diisi oleh Rahma Artika Salampessy, Deputi Kepala Wilayah Maluku dan Maluku Utara Bursa Efek Indonesia, yang membawakan materi “Mengenal Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia”. Ia menjelaskan, investasi penting dilakukan untuk mengantisipasi inflasi, ketidakpastian di masa depan, serta untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan di kemudian hari, dengan filosofi sederhana “Paham, Punya, Pantau”.
Rahma memaparkan, pasar modal syariah hadir dengan menjunjung prinsip-prinsip Islam, yakni bebas dari riba, gharar, maysir, serta memastikan kehalalan barang dan jasa yang menjadi objek transaksi.
Ia menambahkan, Otoritas Jasa Keuangan telah menerbitkan Daftar Efek Syariah (DES) setiap bulan Mei dan November sejak tahun 2007, dengan jumlah emiten syariah yang terus bertambah hingga mencapai 622 emiten dan terus bertumbuh setiap tahunnya. Produk investasi syariah di pasar modal pun kini semakin beragam, mulai dari saham syariah, reksa dana syariah, sukuk, hingga Exchange Traded Fund (ETF) syariah.
“Investasi saham bukan judi maupun forex, melainkan bukti kepemilikan sah atas suatu perusahaan yang dikenal dalam prinsip syariah sebagai musyarakah atau syirkah,” jelasnya, sembari menegaskan investasi saham kini jauh lebih mudah diakses dibanding satu dekade lalu.
Selanjutnya, sesi pemaparan materi praktik berinvestasi dibawakan langsung oleh Muh Sahril G Bugis, Branch Representative Phintraco Sekuritas Cabang Ambon, yang mengajak mahasiswa langsung mempraktikkan cara membuka rekening dan bertransaksi saham melalui aplikasi.
Sahril menjelaskan, Phintraco Sekuritas, sebagai anggota Bursa Efek Indonesia yang telah meraih delapan rekor MURI, kini memiliki lebih dari 100 ribu investor dengan 27 kantor cabang dan 368 galeri investasi di seluruh Indonesia, termasuk di wilayah Maluku.
Ia menekankan, berinvestasi saham di masa sekarang jauh lebih terjangkau dibandingkan era 1990-an, di mana modal awal yang dulunya mencapai puluhan juta rupiah kini bisa dimulai hanya dengan seratus ribu rupiah, dengan fee transaksi yang lebih rendah.
Ia turut menyampaikan tentang keamanan berinvestasi karena adanya perlindungan melalui Indonesia Securities Investor Protection Fund (SIPF), lembaga yang menjamin keamanan aset investor berupa efek maupun dana tunai di Rekening Dana Nasabah (RDN).
“Mulailah berinvestasi dengan trading plan yang jelas, pilih perusahaan terbaik, lakukan analisis saham, dan rutin memantau perkembangan pasar,” pesannya kepada para peserta yang juga diajak mempraktikkan simulasi pembelian saham secara langsung.
Antusiasme mahasiswa HMI Cabang Kota Ternate terlihat sepanjang kegiatan berlangsung, khususnya saat sesi praktik langsung membuka rekening efek dan simulasi transaksi saham.
Kegiatan yang merupakan bagian dari Sekolah Pasar Modal dalam rangkaian World Investor Week 2026 ini diharapkan dapat menumbuhkan minat generasi muda Maluku Utara untuk mulai berinvestasi secara bijak dan sesuai kaidah, sekaligus memperluas inklusi keuangan pasar modal syariah di daerah.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.