Tandaseru — Setiap pagi, hempasan ombak Samudra Pasifik menjadi saksi bisu perjuangan puluhan anak Desa Saminyamau memetik cita-cita. Di desa mereka, tidak ada gedung SMP maupun SMA, mengharuskan mereka bertaruh keselamatan menyeberangi laut sejauh 1,1 mil menuju Desa Posi-Posi di Kecamatan Pulau Rao, Kabupaten Pulau Morotai.

Selama ini, perahu kayu seadanya menjadi satu-satunya tumpuan. Keresahan ini tersampaikan tanpa suara kepada empat personel Markas Unit (Marnit) Morotai Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Polda Maluku Utara.

Tanpa menunggu komando atasannya, nurani para prajurit ini terpanggil untuk menyisihkan gaji dan berpatungan membeli perahu berbahan fiber serta mesin bekas berkapasitas 15 tenaga kuda.

Aksi nyata tersebut melahirkan sebuah inisiatif mulia bernama PURI ANJASMORO, sebuah akronim dari Polisi untuk Negeri Antar Jemput Anak Sekolah Morotai. Tepat pada Senin, 5 Oktober 2026 pukul 06.30 WIT, layanan ini resmi melaut untuk pertama kalinya di bawah pengawalan Bripda Maulidin Lohor dan Bripda Anada Trisandi.

Sebanyak 23 siswa yang terdiri dari 13 anak SMA (11 perempuan dan dua laki-laki) serta 10 anak SMP (tujuh perempuan dan tiga laki-laki) berhasil diantar sampai ke gerbang sekolah mereka dengan aman.

Personel Marnit Pulau Morotai Ditpolairud Polda Maluku Utara mengantarkan anak-anak desa Saminyamau bersekolah di pulau seberang. (Istimewa)

Direktur Polairud Polda Maluku Utara, Kombes Azhari Juanda, tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya saat ditemui di Ternate, Jumat (9/10/2026). Ia mengapresiasi kepekaan para anggotanya yang langsung bergerak cepat tanpa harus menunggu instruksi resmi.

“Anggota saya patungan buat perahu. Kasihan melihat anak-anak menyeberang untuk bisa ke sekolah. Tiap hari harus menggunakan perahu seadanya. Saya apresiasi karena mereka tergerak. Ada kejadian seperti itu, ada keresahan, tidak ditunggu diperintah, jiwanya terpanggil,” tutur Azhari dengan nada haru.

Azhari menjelaskan, pilihan membeli perahu fiber berukuran kecil bukan tanpa alasan. Pembuatan perahu tersebut memakan waktu dua hingga tiga bulan karena disesuaikan dengan kondisi geografis setempat. Karakteristik laut di kawasan Pulau Rao yang terpengaruh pasang surut membuat kapal dinas Marnit Morotai tidak memungkinkan untuk merapat, sehingga perahu berukuran sedang menjadi solusi yang paling fleksibel.

Keamanan para siswa tetap menjadi prioritas utama dalam pengoperasian perahu ini. Pengantaran dan penjemputan yang dirancang berlangsung tiga kali sehari tersebut dilakukan secara bertahap demi menjaga keseimbangan dan keselamatan pelayaran.

Untuk mendukung kelancaran operasional, Azhari turut menyumbangkan 12 jaket keselamatan yang sesuai dengan kapasitas perahu, dan berencana menambah persediaan jaket keselamatan khusus anak-anak, pelampung cincin, serta dayung cadangan.

“Pengantaran dan penjemputan dilaksanakan secara bertahap dengan tetap memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan selama pelayaran, agar setiap kegiatan berlangsung aman serta lancar,” jelas Azhari.

Meski layanan ini sempat terhenti sejenak setelah hari perdana akibat kegiatan belajar mengajar di Morotai diliburkan pascabencana kebakaran hutan dan lahan, semangat para personel Polairud tidak meredup. Selain menghadirkan PURI ANJASMORO, Marnit Morotai juga terus mengupayakan ruang bagi program perpustakaan keliling dan layanan kesehatan masyarakat yang masih menunggu dukungan akses dari pihak terkait. Bagi Azhari, langkah kecil anggotanya adalah cerminan utuh dari semangat kepolisian masa kini yang melebur bersama rakyat.

“Sangat kebetulan sekali dengan slogan Polri saat ini, Polisi Bersama Masyarakat,” tandasnya mengakhiri perbincangan.

Sahril Abdullah
Editor
Sahril Abdullah
Reporter