Oleh: Murid Tonirio

Dosen FUAD IAIN Ternate

_______

SAYA telah mengenal Taufik Adnan Amal sebelum bertemu muka-muka. Pengenalan saya terhadapnya diperantarai kerta bertulisan. Buku.

Akhir tahun 1989, atau awal 1999, seorang teman membawa buku tipis, tapi isinya tidak tipis, bersampul warna hijau tua, ke sekretariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Jalan Gunung Lompo Battang, Ujung Pandang. Dia taruh buku itu begitu saja di atas meja yang sudah berantakan oleh kertas dan gelas berisi ampas kopi. Saya mencoba mengambil buku itu, tetapi dia cepat-cepat meraihnya kembali. “Hanya orang bodoh yang meminjam buku; dan hanya orang gila yang mengembalikan buku yang sudah dipinjam,” kata teman itu meledek. Buku itu akhirnya saya tahu judulnya – “Tafsir Kontekstual Al-Quran: Sebuah Kerangka Konseptual”, dan penulisnya, Taufik Adnan Amal dan Samsu Rizal Panggabean – setelah “mencuri” dari rak buku di kamar kos teman yang meledek saya beberapa hari lalu.

Dan, saya paham, mengapa buku ini sudah menimbulkan “gegeran” di kalangan akademisi Makassar, terutama di lingkungan IAIN Alauddin Ujung Pandang kala itu, sebelum saya membaca buku ini. Beberapa dosen yang telah membaca buku tersebut menyikapinya dengan parasaan ambigu. Saya tidak tahu mengapa mereka bersikap demikian. Baru belakangan saya menduga-duga, ambiguitas yang diperlihatkan para akademisi, mungkin, karena usia Taufik dan Rizal baru pertengahan 20-an kala itu, usia yang sangat muda seseorang disebut ulama, yang “berhak menulis” karya seputar Alquran. Dalam tradisi intelektual Islam di Indonesia, dan barangkali di seantero dunia Islam, ada semacam konvensi yang berlaku bahwa hanya ulama yang tua-tua yang bisa menulis tentang Alquran. Karenanya, Taufik dan Rizal – ini dugaan saya – dianggap “lancang”.

Sebab kedua – ini bukan dugaan – adalah referensi yang dirujuk Taufik dan Rizal. Dalam beberapa diskusi yang saya ikut, dan di kelas kuliah, akademisi Makassar tampak kuasa menyembunyikan keberatan dengan karya orang Barat, setidaknya karya berbahasa Ingris, yang dirujuk kedua penulis. Ilmu-ilmu menyangkut Alquran telah memiliki metode yang “baku”, dengan rujukan yang baku pula. Terlalu mengandalkan karya ilmuwan Barat sangat berisiko. Alquran, kalam Allah yang “ahistoris” dan “transendental”, bisa terintervensi oleh upaya-upaya manusia yang tidak bebas bias politik dan budaya. Terlalu mengandalkan tradisi intelektual Barat, yang sudah sangat dirembesi pendekatan yang melihat segala sesuatu, termasuk teks suci agama, memiliki sejarahnya, jika diterapkan dalam studi-studi Alquran, ia bukan hanya akan mereduksi dimensi transendesi kalam Allah, melainkan juga berisiko secara teologis, dan terhadap kepercayaan umat Islam.

12 tahun setelah karya yang ditulis bareng Samsu Rizal Panggabean, Taufik kembali menggebrak samsak studi-studi Alquran. Adalah bukunya, “Rekonstruksi Sejarah Al-Quran”, yang memukul hampir telak tradisi kepenulisan Alquran. Seperti buku pertama, buku ini juga ditanggapi dengan ambigu. Orang-orang “keberatan” bukan karena “isinya menyimpang”, melainkan, lagi-lagi, karena karya Ismolog Barat terlalu dominan menjadi rujukan.

Mengapa Taufik memilikirkan Alquran dengan metode bereda? Saya tidak memiliki jawaban yang memadai menjawab pertanyaan ini. Almarhum tidak menerbitkan buku baru setelah “Rekonstruksi Sejarah Al-Quran”. Salah satu sebabnya, sekali lagi saya hanya menduga-duga, almarhum mungkin merasa tidak penting menanggapi keberatan penanggapnya. Almarhum seorang penulis. Dan seperti setiap penulis, tidak akan menanggapi keberatan yang disampaikan dengan berkata-kata lisan saja.

Apakah Taufik, dan pemikir muda Islam Indonesia segenerasi, menawarkan sesuatu metode yang baru (sama sekali) dalam menafsirkan Alquran? Taufik tetaplah seorang cendekiawan yang taat pada kaidah-kaidah tafsir Alquran. Ia menjadi berbeda karena keberaniannya menggeser perspektif – dari perspektif konvensional ke apa yang disebut perspektif Neo-Modernisme. Dalam arti itu, kita akan bisa membaca Taufik relatif baik bila kita bersedia melakukan pembacaan menggunakan pendekatan “sejarah intelektual”. Membaca almarhum dengan cara itu, kita akan bertemu dengan tradisi pemikiran Islam yang ada belasan abad sebelumnya.

Kemarin, Senin, 5 Oktober 2026, saya menelepon Marjorie, adik Taufik, untuk memastikan kebenaran berita duka yang disebarkan teman-teman di grup WA. Hari ini, Selasa, 6 Oktober 2026, orang-orang melayat, dan mengantar kepulangannya (Bhs Galela: omasigiliho) ke muasal hakiki. Sambil mengantar ke pemakaman, saya mengingat Om Nan, ayahanda almarhum. Satu saat seusai salat Jumat, kami bercerita. Om Nan mengatakan: “Asep (Taufik) sekarang sedang menggarap buku barunya, tentang ‘naskah-naskah’ tua Alquran di Indonesia”. Kalau saya tidak salah ingat, Om Nan bilang, “salah satu naskah yang akan dibahas ditemukan di Maluku Utara. Sepertinya naskah itu berasal dari Makeang”.

Kepulangan almarhum bukan sebuah kepergian. Seperti karya-karya akademik yang dia kembangkan dengan cara menggeser perspektif, yang almarhum wariskan kepada kita sebagai amal jariahnya, Asep hanya menggeser tempat tinggal – dari rumah ke apa yang disebut barzakh – tempat baru yang bukan pemisah antara dunia dan akhir sebagaimana kata itu diterjemahkan selama ini. Almarhum hanya menempati alamat baru yang telah disediakan sebelumnya oleh Allah. Karena hanya pulang, almarhum senantiasa ada membersamai kita. Nisan almarhum, saya rasa, telah bertahta, dan akan terus begitu, dalam ingatan penyuka pikiran berisi ilmu. Seperti ayahnya, Om Nan, nisan Taufik adalah buku yang, dengan itu, almarhum terus dikenang, dan didoakan setiap kali membaca karyanya. (*)