Oleh: Agus SB

Pengajar Antropologi IAIN Ternate

_______

HARI pertama, setelah dilantik sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah oleh Rektor IAIN Ternate, ia langsung menggeser ruangan Dekan ke ruangan depan dari lantai dua fakultas. Ruangan yang ia bebaskan dari terpaan pendingin ruangan (air conditioner), membuka lebar pintu ke arah sepotong serambi relatif sempit, menjadikan ruang Dekan tak hanya terbuka, juga telanjang dalam arti harfiah. Saya mengenalnya, si Dekan ini, secara dekat. Saya mengidentikkan ketelanjangan ruangan itu dengan ‘keterbukaan pikirannya’ ketika berinteraksi dengan siapapun.  

Saya buru-buru menuliskan ini, untuk Murid, bukan menggurui, tapi mengingatkan kalau-kalau kemudian dia diubah oleh statusnya saat ini. Jika perlu, di kemudian hari, saya akan melancarkan serangan kritik untuk mengingatkan “apa yang patut dan tidak patut”, membedakan antara yang berdasar dan yang tak berdasar”, “yang teruji dan yang tak teruji” (kritik dari kata Yunani “krinein = membedakan). Karena saya tidak ingin, suatu ketika, seseorang mengatakan “ia hanya mujur peroleh mandat sebagai dekan”. Kata “mujur” dapat berarti ‘keberuntungan yang diperoleh tanpa disangka sangkaatau, keberuntungan yang datang tanpa diusahakan’. Itu terlalu meremehkannya. Ia menjabat karena memiliki kapasitas, agensinya, bukan belas kasih Rektor. Saya percaya pada manusia ketika diberi amanat untuk melakukan atau menjabat sesuatu. Manusia adalah agensi, sederhana apapun, yang dapat menavigasi masalah dan menemukan pemecahannya, dengan kreatif atau mereproduksi pemecahan yang telah ada.

Murid adalah karib saya, bahkan intim (bukan incest) dalam berbagi pikiran, seperti ketika kami berkeluh kesah tentang banyak hal yang tidak dapat diatasi karena tidak punya kuasa. Kini, anda, Murid, punya kuasa. Tentu saja, kuasa yang tak melampaui langit di atasnya. Dengan itu,  Murid berada dalam momen “saat ini untuk IAIN Ternate”. Apa yang saya dan para kolega di Fakultas nantikan adalah ‘momentum’ yang anda ciptakan, sekurangnya untuk Fakultas ini. Anda, Murid, barangkali telah dilatih secara akademik dalam tradisi holismeatau holisme kontekstual. Bekal ini, saya berharap anda tidak pincang dalam membaca sesuatu yang sangat praktis sekalipun di dalam tugas pokok dan di dalam lingkungan (environment: dari bahasa Perancis kuno “virer”, “viron” dengan awal en :sekeliling, mengitari, Young, 1986) di mana anda berada dan memimpin.

Saya menulis ‘peringatan’ ini, sebelum anda, Murid, “menginjak” saya, karena saat ini kita dibedakan oleh status. Status yang pasti menciptakan jarak atas dan bawah, jarak yang dapat menyebabkan kita melihat sesuatu yang sama secara berbeda. Terjadi semacam  “permainan posisi”. Perbedaan antara kami sudah mulai menampak meskipun belum sepenuhnya. Murid tak lagi menggunakan kaos oblon ke kampus, atau saatmengajar di kelas, tidak lagi gunakan celana bofen dan sendal jepit (gara-gara ini seorang pegawai pernah basedu; “itu bentuk kenakalan remaja”, sic!). Setelah dilantik, Murid ke kantornya pagi pagi (tak lagi menikmati pagi?) dan pulang tepat jam empat sore (untuk nyeruput kopi sendiri?). Tetapi itu bukan hal yang mengejutkan, bukan perilaku baru. Tidak. Murid adalah waktu, ia tepat waktu, sejak permulaan saya mengenalnya di tabloid/mingguan Ternate Post. Datang tepat waktu saat rapat redaksi, dan pulang duluan karena jengkel pada kawankawan yang datang telat. Tepat waktu adalah kebiasaannya. Saya hormat pada sikapnya terhadap waktu. Meskipun saya mengajarkan kepada mahasiswa bahwa “waktu adalah satu di antara lima nilai (value) universal pada masyarakat manapun, saya sulit menyamai kedisiplinan ini. Barangkali, karena ‘mengetahui’ tidak selalu berarti diikuti ‘melakukan’.

“Demi waktu”,  demikian sumpah Tuhan. Tetapi waktu tidak hanya perkara datang tepat waktu kerja dan pulang tepat waktu. “Orang-orang yang merugi karena melalaikan waktu”, kurang lebih demikian kata Tuhan, adalah perkara “waktu yang berisi”, apa yang dilakukan dalam interval “datang” dan “pulang” pada waktu kerja yang ditentukan. Demikian halnya, ‘apa yang dilakukan’ dalam interval waktu antara “setelah pelantikan” dan “mengakhiri periode jabatan”.

Meskipun perbedaan posisi dapat menyebabkan perbedaan pandangan, sikap dan tindakan terhadap sesuatu yang sama, satu hal yang sama kita (akan) sepakati dan berpegang yaitu, dunia di mana kita berkhidmat. Ada “dunia-dunia” yang berbeda (dunia sebagaimana anda memahami dan menjalaninya), dan IAIN Ternate adalah sebuah dunia yang khas. Sebuah dunia yang dibentuk dan diabdikan untuk ilmu pengetahuan (sebaiknya kita tidak bedakan secara ideologis antara ‘ilmu-ilmu keislaman’ dan ‘non-keislaman’, seolah yang terakhir tidak dibahas di dalam Alquran, juga karena sampai tingkat tertentu dapat bekerjasama dalam kerangka akademik maupun praksis).  Sebagai “penjaga ilmu pengetahuan”, Rektor memandatkan sebagian kewenangan akademiknya kepada anda, Murid. Dan semua kita, di dalam dunia itu, mengabdikan diri kepada tujuan awal ini (tentu saja, bukan demi tujuan itu sendiri) ketika pertama kali  dibangun universitas di dunia ini.

Di situ, pada dunia yang khas ini, kita akan berinteraksi, dan di dalam interaksi itu akan kita saling mengomunikasikan gagasan dan saling menitipkan harapan mengenai pengembangan akademik (bidang keilmuan) maupun administrasi yang memfasilitasi bekerjanya akademi (bukan administrasi yang mngungkung kreatifitas keilmuan/akademi).  

Di penghujung akhir nanti, dari interval periode jabatannya, saya berharap, dan kolega lainnya di fakultas dan IAIN akan berkata: “anda layak” memimpin akademi fakultas ini. Tidak kurang dari itu. Ini sekadar mengingatkan, tanpa sorak-sorak bergembira. (*)