Tandaseru — Seorang guru SD asal desa Ngajam, kecamatan Loloda Utara, kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, harus menghembuskan napas terakhir saat dirujuk ke RSUD Tobelo. Guru berinisial MP (68 tahun) itu wafat di tengah perjalanan lantaran buruknya akses jalan ke ibukota kabupaten.
Kerabat MP, Asterlita T Raha, mengungkapkan sang bibi awalnya dirawat di Puskesmas Dorume, Loloda Utara. Ia divonis anemia dan dehidrasi usai mengalami diare. Pada Rabu (10/12/2025), MP dirujuk ke RSUD Tobelo karena kondisinya tak kunjung membaik.
“Jarak dari Dorume ke kota Tobelo normalnya 3-4 jam, jika kondisi jalan bagus dan jembatan ada. Tapi kenyataannya, jalan dari Loloda Utara ke ibukota itu sangat tidak representatif. Jalan sirtu rusak parah, dan hampir semua sungainya tidak ada jembatan,” ungkapnya.
Kondisi jalan dan ketiadaan jembatan kian terasa di musim penghujan. Kendaraan roda empat kadang nekat menerjang banjir dengan risiko mobil mogok, bahkan hanyut.
Saat MP dirujuk, perjalanannya tertahan di gunung Ngidu lantaran mobil tak bisa menanjak di jalanan yang rusak dan becek. MP lantas menghembuskan napas terakhir di sungai dekat desa Gisi.
“Berangkat dari puskesmas jam 10 pagi. Tertahan di empat sungai karena banjir dan tidak ada jembatan. Sepanjang jalan juga penuh air, jadi saat dekat di sungai keempat dekat desa Gisi, mendiang menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 17.00 WIT sore,” terang Asterlita.
Mirisnya, setelah menempuh perjalanan selama 7 jam itu, MP masih terbilang jauh dari RSUD Tobelo. Sebab perjalanan selama itu hanya mengantarkannya melewati dua desa. Sebuah perjalanan yang begitu menyakitkan dan berakhir duka.
“Dan ini bukan pertama kali pasien dari Loloda Utara meninggal karena kelamaan di jalan. Dari kampung kami, Ngajam, saja sudah tiga orang. Ada pula pengakuan sopir lintas yang sudah dua kali bawa pasien rujuk tapi meninggal di tengah jalan,” ujar Asterlita.
Pembangunan jalan Trans Loloda-Galela sendiri pernah dialokasikan dalam proyek Multiyears Pemprov Malut pada 2017-2019. Namun pekerjaan jalan itu hanya sampai tahapan sirtu. Seiring berjalannya waktu, jalanan kembali rusak parah lantaran tak kunjung diaspal.
Bagi Asterlita, abainya pemerintah daerah terhadap kondisi ini kian mengaburkan kehadiran negara melayani warga. Selama bertahun-tahun, warga Loloda Utara harus berjibaku dengan bahaya di jalan. Selama itu pula, negara seakan menutup mata terhadap derita mereka.
“Negara harus hadir, khususnya Pemerintah Daerah Halmahera Utara dan Pemerintah Provinsi, untuk segera membangun dan memperbaiki akses jalan serta jembatan menuju Loloda Utara. Meski kondisinya rusak parah, jalur ini tetap digunakan oleh masyarakat karena merupakan satu-satunya akses menuju Tobelo sekaligus urat nadi perekonomian warga,” paparnya.
Selain infrastruktur jalan, sambung Asterlita, ketersediaan obat-obatan dan fasilitas kesehatan di Puskesmas juga harus menjadi perhatian serius agar penanganan pasien dapat dilakukan secara maksimal sebelum dirujuk ke Tobelo.
“Namun, persoalan paling mendesak tetaplah akses jalan. Ini bukan kejadian pertama kami, masyarakat Loloda, telah berulang kali kehilangan anggota keluarga di tengah perjalanan akibat kondisi akses yang tidak layak,” bebernya.
Di tengah keterbatasan tersebut, ia menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada para perawat di Puskesmas Dorume.
“Mereka dengan penuh tanggung jawab tetap mendampingi dan mengantarkan pasien untuk dirujuk, meskipun harus menghadapi kondisi jalan dan cuaca yang sangat buruk,” tandasnya.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.