Oleh: Asghar Saleh

_______

DI sebuah kesempatan berdiskusi dengan Rasulullah SAW, seorang sahabat bertanya dengan keraguan yang menjepit. Wajahnya menekuk seolah-olah ada begitu besar beban yang menindih hatinya. Dengan suara lirih ia bertanya – “Wahai Rasulullah, aku ingin bertanya tapi sungguh aku khawatir pertanyaanku ini akan semakin membuatku malu di hadapan Allah“.

Rasulullah tersenyum dan berkata – “Katakanlah sahabatku, tak ada pertanyaan yang membuat kamu menjadi hina jika tanyamu itu untuk mencari kebaikan”.

Masih dengan suara lirih yang sama, sahabat itu bertanya – “Wahai Rasulullah, aku selalu merasa salatku sering tidak khusyuk. Sering aku mengingat urusan dunia. Pikiranku melayang kemana-mana. Aku takut salatku tidak diterima oleh Allah. Apakah dengan salat seperti itu, aku tetap mendapat pahala?”

Ruangan diskusi menjadi hening. Banyak sahabat yang tertunduk. Hati mereka mengakui jika situasi yang sama sering juga mereka alami. Salat tapi tidak fokus. Para sahabat sadar betapa beratnya pertanyaan itu.

Rasulullah tidak langsung menjawab. Beliau terdiam. Lalu perlahan airmatanya berderai membasahi pipi. Para sahabat kembali terkejut. Mengapa Rasulullah menangis. Apa yang salah?

Dengan suara bergetar Rasulullah menjawab – “Demi Zat yang menggenggam jiwaku, sungguh setan tidak akan pernah menyerah dan selalu berusaha merusak salat seorang hamba. Namun percayalah Allah tetap melihat usahamu”.

Jika kita menyerah dan berhenti untuk memperbaiki salat kita. Membiarkan tidak khusyuk maka setan akan menang. Tapi jika kita berusaha salat meski dengan pikiran yang menganggu maka ketahuilah, setiap kali kita berusaha kembali pada Allah, saat itulah Allah selalu menyambutnya.

Kalimat penuh cinta dari Rasulullah membuat semua sahabat menitikkan airmata. Kemudian Rasulullah melanjutkan dengan sebuah contoh. “Bayangkan seorang ibu yang melihat anaknya berjalan ke arahnya. Tetapi sang anak sering jatuh dan tersandung. Tertatih-tertatih langkahnya. Apakah sang ibu akan marah? Tidak! Ia justru akan berlari menghampiri anaknya. Mendekapnya, memeluknya dengan kasih dan mengangkatnya dengan cinta yang mengguncang semesta. Itulah Allah. Ia lebih penyayang dari seorang ibu kepada anaknya. Selama engkau terus kembali, Allah akan selalu menerimamu”.

Betapa Maha Pengasihnya Allah. Betapa luas rahmat-Nya. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. (*)