Menurutnya, praktik kepemimpinan model tirani yang tampak sewenang-wenang dan otoriter juga tengah dipraktikkan di Kecamatan Taliabu Selatan, terutama oleh oknum kepala desa.

“Saya mau sampaikan pada bapak ibu yang memberi mandat ke saya sebagai anggota DPRD, kepala desa yang gila-gila itu nanti ya, tunggu kalian. Aparatur itu penggerak rakyat, jadi kalau ada kepala desa yang statusnya ASN ancam-ancam rakyat, eksekusi dia. Kepala desa model apa yang ancam orang di jalan-jalan, kerja papancuri. Sudah potong-potong uang rakyat, ancam orang lagi,” kecam Tono.

Cucu pertama Tomas Rete yang ditokohkan masyarakat Kadai dan Mange di pantai selatan Taliabu itu membeberkan bahwa selama masa kepemimpinan bupati saat ini telah menghabiskan uang rakyat tidak kurang dari Rp 7 triliun, namun belum berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat di desa.

“Rp 7 triliun so abis, listrik saja tidak ada, yang ada hanya pejabat kepala desa yang ancam-ancam orang di kampung. Dan yang saya heran lagi, sekarang di hampir semua rumah sudah ada anak-anak yang sarjana tapi masih takut pemimpin kayak begitu. Kita sepakat ya, kita sepakat untuk usir kepala-kepala desa yang kurang ajar dari tanah ini,” tegas Tono.

Informasi yang dihimpun media ini, di masa kampanye calon kepala daerah Pilkada Taliabu saat ini, sejumlah kepala desa maupun kepala dinas dikabarkan secara terang-terangan melakukan intimidasi dan menekan warga, terutama ASN, untuk mendukung paslon tertentu.