Dari premis di atas, mari kita bicara fakta, menggunakan variabel rekam jejak untuk mengidentifikasi satu persatu kandidat yang bertarung, antara siapa yang terbaik dan siapa yang terburuk. “Siapa yang terbaik” nyaris tidak kita temukan, tentu bukan terbaik secara personality, karena mengukur kebaikan pribadi masih akan terlampau subjektif.

Akan tetapi untuk menilai “siapa yang terburuk,” kemungkinan ada jawaban terang yang dapat kita temukan. Pertama, adalah rekam jejak setiap kandidat sebagai pejabat publik. Kedua, untuk me-reach out satu persatu, kebijakan mereka yang tidak kurang dari hal-hal bias. Ketiga, perihal pencapaian atau prestasi apa saja yang pernah dicapai.

Tampaknya, rekam jejak dari empat kandidat yang akan bertarung, terlepas dari siapa wakilnya, semuanya pernah memiliki kedudukan sebagai penyelenggara negara. Saya meyakini pemilih Maluku Utara sudah cerdas untuk mengidentifikasi figur mana yang harus dipilih. Akan tetapi, keyakinan ini hanya akan terbukti melalui penentuan dari pemilih: siapa yang akan dipilih dan menjadi pemenang?

Hanya saja, ada rasa pesimis akan hal itu: yang menang belum tentu yang terbaik. Sebab, nuansa pertarungan merebut kekuasaan kali ini persis dengan sebelumnya. Cara untuk menciptakan budak-budak elektoral masih tampak sebagai kalkulasi strategi pemenangan. Tagline untuk merebut hati rakyat hanyalah platform semu yang tidak sampai menyentuh ranah ke-publik-an.

Lantas, pantaskah kita mengatakan ini sebagai cara untuk menyelamatkan Maluku Utara? Cara untuk bangkit bersama dari keterpurukan setelah dua dasawarsa ini? Dari pertanyaan ini, saya kemudian terhubung dengan istilah “batu badaon” dalam percakapan hari-hari publik Maluku Utara, bahwa batu adalah benda mati, dia tidak akan menumbuhkan sesuatu apapun, hanya akan habis perlahan akibat tetesan air.

Cerita “batu badaon” hanyalah pemanis, dan memancing gelak tawa kita yang sadar akan kondisi politik saat ini, bahwa semuanya sedang diperbudak, menjadi pesuruh dalam politik, tidak menghasilkan langkah-langkah kemajuan. “Batu badaon” layaknya retorika politik yang telah mengikis rasa kepercayaan publik, hanyalah akal-akalan agar masyarakat bersikap jinak dan penurut. Selaras dengan sikap ini, menurut saya tidak akan membawa keberuntungan apapun jika sebatas sebagai budak politik yang tunduk perintah kekuasaan.

Ari Helo, seorang sejarawan Finlandia, dalam sebuah artikelnya di musim panas berjudul “Thomas Jefferson and Politics: A Game Where Principles are the Stake, (2023)”, pernah mengutip nasihat Jefferson kepada Taylor, bahwa kita hanya dapat bersabar hingga keberuntungan berbalik, sebab permainan politik tidak akan berdampak ke rumah kita. Dan setiap petarung kerap membutuhkan waktu untuk membujuk kita agar melakukan sesuatu yang baik bagi kepentingan pribadi mereka.

Memang demikian, berharap akan kebaikan dan segala keberuntungan yang akan terjadi, para budak itu tidak dibayar sesuai dengan kualitas kerjanya, dia bekerja karena terpaksa menuruti. Jika dibayar, berapapun upahnya dia tetap menerimanya. Kalaupun sama sekali tidak dibayar, tetap rela bekerja keras demi tuannya. Sembari bersabar, dia berharap keadaan akan membaik, jika tidak kunjung terjadi, ia cukup meyakini keberuntungan pasti akan berbalik.

Keyakinan itu berpaut dengan mereka yang rela menjadi tim sukses, bekerja tanpa kenal waktu, harapan akan keberuntungan dapat mengubah hidupnya. Jika sebaliknya kondisi memburuk, ia menghadapi dua bentuk pilihan: terpaksa menjilat atau menjadi garda terdepan mengkritik kekuasaan. Tapi soal budak elektoral, adalah identitas baru bagi kita semua. Rakyat biasa di Maluku Utara. (*)