Wajah Pendidikan Nasional
Isu tentang perbaikan pendidikan di Indonesia telah mencuat kepermukaan bahkan jauh sebelumnya, tidak hanya dalam jalur pendidikan formal, tetapi semua jalur dan jenjang pendidikan, karena semua jenis, jenjang dan jalur pendidikan merupakan unsur-unsur yang memberikan kontribusi terhadap rata-rata hasil pendidikan secara nasional. Dengan demikian, kelemahan proses dan hasil pendidikan akan mempengaruhi indeks keberhasilan pendidikan secara keseluruhan.
Sementara itu, Pokja Filosofi dan Kebijakan Pendidikan yang diketuai oleh Sumarno (Mantan direktur Pasca Sarjana UNY) dalam Fasli Jalal & Dedi Supriadi (2015) menjelaskan bahwa fenomena pendidikan Abad 21 yaitu: Globalisasi dan Pendidikan – Budaya dan Karakter Bangsa – Internet dan Cyber. Hal ini yang mengakibatkan problem pendidikan kita saat ini. Pertama, lemahnya kemampuan sistem pendidikan nasional. Kedua, terbatasnya kemampuan dan dan komitmen masyarakat terhadap pendidikan. Ketiga, desentralisasi pendidikan. Keempat, masalah relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat. Kelima, akuntabilitas pendidikan.
Wajah Pendidikan Bagi Anak Desa Pulau Morotai di Era Globalisasi
Secara konseptual, Istilah “globalisasi” berhubungan dengan peningkatam saling keterakaitan antar-bangsa, dan antar-manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan interaksi lainnya. Globalisasi mempunyai dua sisi, yaitu tantangan dan peluang. Globalisasi menjadi sebuah tantangan sekaligus harapan dalam dunia pendidikan. Dalam konteks pendidikan anak di era globalisasi memiliki tantangan terhadap pembentukan karakter anak. Menurut Gunaryadi (2014) bahwa dampak globalisasi terhadap dunia pendidikan terlihat dalam tiga perubahan mendasar dalam dunia pendidikan, yaitu pertama pendidikan sebagai komoditas dan komersial yaitu usaha mencari pasar baru dalam memperluas bentuk-bentuk usaha secara kontinyu. Kedua, kontrol pendidikan oleh negara yaitu pemerintah masih mengontrol sistem pendidikan di suatu Negara dengan cara intervensi langsung berupa pembuatan kebijakan dan payung legalitas. Ketiga, mendorong delokalisasi dan perubahan teknologi dan orientasi pendidikan yaitu pemanfaatan teknologi baru seperti komputer dan internet telah membawa perubahan yang sangat revolusioner.
Pendidikan di era globalisasi adalah suatu pendidikan yang diperlukan untuk menghadapi era globalisasi. Pendidikan ini harus dapat membentuk sumber daya manusia yang siap bersaing secara sempurna di era yang sangat terbuka ini bagi siapa saja untuk turut bersaing dari setiap negara peserta. Dan khususnya membangun pendidikan di Kabupaten Pulau Morotai sangatlah strategis, karena daerah ini dikenal dengan Kawasan Ekonomi Khusus, Kawasan Kota Mandiri Terpadu serta daerah 3T (Tertinggal, Daerah Terluar dan Terdepan) dll. Oleh karena itu, keterkaitan pentingnya pendidikan bagi anak desa Pulau Morotai di Era Globalisasi, kita tidak perlu berkecil hati. Karena kita berbeda dengan kabupaten yang di Maluku Utara. Biasanya di kabupaten lain seringkali penuh keterbatasan dari kebijakan-kebijakan daerah. Bahkan pendidikan di desa biasanya di perhadapkan dengan masalah infrastruktur pendidikan berupa fasilitas-fasilitas sekolah yang sangat buruk dan tidak layak untuk dijadikan sarana penunjang pendidikan. Juga pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) berupa tenaga pendidik dan kependidikan yang tidak layak. Akan tetapi di Kabupaten Pulau Morotai semuanya serba gratis, mulai dari pendidikan sampai kesehatan.
Hal ini bisa dilihat pada tahun 2012 di masa kepemimpinan Bupati Rusli Sibua dan Weni Paraisu dengan kebijakan mendorong dan mendirikan UNIPAS Morotai, bahkan pengembangan SDM atau studi lanjut S2. Di tahun itu pemerintah sadar bahwa SDM sangat penting, karena hajat dan juga soal gengsi, pada saat itu angka pendidikan kita dari 8/9 Kab/Kota yang ada di Propinsi Maluku Utara, Pulau Morotai masih di urutan ke 8 dibawa Kabupaten Kepulauan Sula. Juga berlanjut di masa kepemimpinan Bupati Benny Laos dan Asrun Padoma tahun 2017 yang mana kebijakannya mendorong wajah Pendidikan 12-16 tahun artinya dari SD, SMP dan S1 beasiswa gratis untuk rakyat Pulau Morotai, termasuk kebijakan sekolah unggulan. Dan untuk tahun 2024 Pulau Morotai, kita di perhadapkan dengan momentum politik maka hemat penulis dari ketiga calon, yaitu: Rusli Sibua dan Rio C. Pawane, Syamsudin Banyo dan Judi R. Dadana, dan Deny Garuda dan M. Qubais Baba, harus mempertahankan dalam berkelanjutan program pembangunan pendidikan yang ada. Karena tidak ada investasi yang rugi dalam dunia pendidikan. Pendidikan, dalam bentuk apapun diselenggarakan mempunyai pengaruh besar terhadap segi-segi kehidupan politik, ekonomi, budaya, lingkungan, kesejahteraan dan sebagainya. Karena dari sudut pandangan ekonomi pendidikan berarti penanaman modal, baik penanaman modal dalam bentuk manusia (human investment) maupun investasi dalam bentuk modal (capital investment) untuk persiapan hidup masa depan yang bahagia (Baca buku Fahmi Djaguna/Analisis Kebijakan Pendidikan; Teoritis dan Praktis, 2023).
Seperti kita belajar di negara maju yaitu negara Jepang, pada saat Jepang menyerah kalah dari Sekutu setelah dua kotanya (Hiroshima dan Nagasaki) dijatuhi bom atom, Kaisar Hirohito memanggil Perdana Menteri. Dia bukan bertanya berapa tentara, dokter, insinyur atau ahli hukum yang masih hidup, tetapi berapa guru yang masih hidup. Bagi seorang sang Kaisar, gurulah profesi yang paling penting karena dari gurulah profesi-profesi lain itu akan muncul. Seperti yang kita lihat bersama, negara dengan kapasitas sumber daya alam terbatas dan hancur karena perang itu bisa kembali bangkit dan sampai sekarang menjadi salah satu kekuatan ekonomi dan teknologi kelas dunia di era globalisasi.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.