Sebelum tahun 1802, orang-orang Yahudi di sekitar Gur tinggal di daerah pedesaan. Mereka dilarang menetap di kota Gora Kalwaria lantaran sifat sucinya. Situasi ini diubah oleh pemerintah Prusia pada tahun 1802. Migrasi penduduk Yahudi ke Góra Kalwaria dimulai, mereka bekerja di bidang kerajinan dan perdagangan di sana. Pada tahun 1806, sebuah daerah kantong Yahudi didirikan di Alun-alun Pasar.

Informasi pertama tentang berdirinya komunitas Yahudi berasal dari tahun 1827. Sinagoga ini awalnya terletak di sebuah kamar sewaan dari tahun 1808, kemudian dibangun kamar kayu, dan pada tahun 1901 dibangun kamar bata (bangunan tersebut bertahan hingga saat ini). Telah ada pemakaman (kirkut) sejak tahun 1826, dan pemandian ritual yang diperlukan (mikveh) dibangun dari batu bata pada tahun 1896, yang sudah tidak ada lagi saat ini. Komunitas Yahudi juga menjalankan cheder (sekolah agama awal).

Lewat program North Maluku Urban Good Government Academy 2024 (NMUGGA24), saya berkesempatan mengunjungi gereja Exaltation of The Holy Cross dan Marianki Cenacle di Gora Kalwaria, Rabu (14/8/2024).

Gereja Exaltation of The Holy Cross terletak di sebuah bukit buatan. Gereja ini dibangun pada 1668 atas perintah Uskup Wierzbowski yang menginginkan pembangunan gereja di atas bukit. Dari tempat ini, 300 tahun lalu, para peziarah berangkat pada peringatan Penderitaan Kristus. Tradisi itu hingga kini masih dipertahankan komunitas warga Gora Kalwaria.

Saat kami tiba, gereja bersejarah ini tengah direnovasi. Di sekeliling bangunan gereja sedang ada penggalian. Wakil Wali Kota Gora Kalwaria, Piotr Chmielewski, mengajak kami masuk lewat pintu belakang.

Begitu masuk, Chmielewski menawarkan melihat ruang bawah tanah gereja, tempat jenazah Uskup Wierzbowski diletakkan. Didorong rasa penasaran dan ingin tahu, satu per satu kami menuruni tangga menuju ruang bawah tanah.

Begitu tangga terakhir dipijak, kami menemukan sebuah ruang kecil bercat putih. Di dalam ruang sederhana itu terdapat sebuah peti terbuat dari metal. Di ujung kaki peti ada karangan bunga berukuran kecil. Tutup peti terbuka, namun ada kaca yang melindungi isi peti tersebut. Dinding ruangan itu hanya tergantung sebuah salib dan foto Uskup Wierzbowski semasa hidup.

Peti tempat jenazah Uskup Stefan Wierzbowski yang telah dimumifikasi disimpan. (Hafiza Jasmine)

Saya melangkah maju dan melongok ke dalam peti. Jenazah Uskup Wierzbowski yang telah dimumifikasi terbaring damai. Seragam keuskupan dan sebuah kalung salib menyelimutinya.