Sekilas Info

Ruang Belajar Baru dan Tantangan Masa Depan Pembelajaran

Minhajuddin Kasman Ar., S.T., M.T.I. (Istimewa)

Oleh: Minhajuddin Kasman Ar., S.T., M.T.I

Owner bukupena.id

_______

PROSES Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) harus terus berkembang untuk menjawab tantangan-tantangan yang muncul di era modern ini. Pesatnya perkembangan teknologi dalam beberapa dekade terakhir telah menghadirkan ruang belajar baru dengan berbagai opsi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas KBM di sekolah, perguruan tinggi, maupun lembaga pendidikan lainnya. Pemanfaatan teknologi ini tidak hanya memperkaya metode pembelajaran, tetapi juga memungkinkan pencapaian hasil yang lebih optimal dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Salah satu tren yang patut dipertimbangkan dalam KBM adalah Pembelajaran Mandiri dan Berkelanjutan (Self-Directed and Continuous Learning). Meskipun pendekatan ini sudah ada cukup lama, pemanfaatannya di lembaga pendidikan kita masih belum optimal. Saat ini, popularitas pendekatan ini terus meningkat, menjadikannya opsi strategis yang layak diterapkan dalam KBM sehari-hari. Melalui Pembelajaran Mandiri dan Berkelanjutan, siswa didorong untuk mengambil inisiatif dalam proses pembelajaran mereka. Contoh kegiatan yang dapat memicu inisiatif siswa antara lain dengan memberikan kebebasan kepada mereka untuk memilih, mengelola, dan menilai pembelajaran mereka sendiri. Sementara itu, guru berperan sebagai pemberi masukan dan arahan, serta memfasilitasi siswa dalam belajar atau berkolaborasi dengan siswa lainnya.

Pendekatan lain yang tidak kalah populer dewasa ini adalah pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning. Inovasi yang masif dan tren yang memanfaatkan teknologi ini memberikan banyak nilai tambah di berbagai sektor, termasuk pendidikan. Dengan memanfaatkan AI dan Machine Learning dalam KBM, siswa dapat menerima pembelajaran yang lebih personal dan pengalaman pendidikan yang sesuai dengan preferensi serta kemampuan masing-masing. Teknologi ini juga dapat menganalisis data dalam jumlah besar untuk membuat jalur pembelajaran, mengidentifikasi kebutuhan pendidikan di masa mendatang, dan mengungkap kesenjangan pengetahuan di antara para siswa. Penerapan teknologi ini sangat bermanfaat dalam penjurusan dan menemukan minat siswa, memungkinkan mereka mengasah keterampilan dengan modul yang lebih akurat dan relevan.

Pemanfaatan Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) juga menjadi tren yang semakin populer dalam dunia pendidikan. Teknologi VR dan AR memungkinkan siswa untuk mengalami pembelajaran yang lebih interaktif dan imersif. Dengan VR, siswa dapat menjelajahi lingkungan virtual yang mensimulasikan situasi dunia nyata atau bahkan tempat-tempat yang tidak mungkin dijangkau secara fisik, seperti luar angkasa atau zaman prasejarah. Sementara itu, AR dapat menambahkan elemen digital ke dalam dunia nyata, memperkaya materi pembelajaran dengan visualisasi tiga dimensi yang menarik dan informatif. Selain itu, Gamifikasi, atau penerapan elemen permainan dalam pembelajaran, juga menjadi strategi efektif untuk meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa. Dengan mengintegrasikan mekanisme permainan seperti poin, level, dan tantangan ke dalam proses pembelajaran, siswa menjadi lebih termotivasi untuk mencapai tujuan belajar mereka. Gamifikasi tidak hanya membuat pembelajaran lebih menyenangkan, tetapi juga membantu siswa mengembangkan keterampilan seperti pemecahan masalah, kerjasama tim, dan berpikir kritis.

Selain yang disampaikan sebelumnya, terdapat pendekatan lain yang juga tidak kalah menarik untuk dipertimbangkan dalam KBM di lembaga pendidikan kita yaitu micro-credentials. Micro-credentials adalah sertifikasi atas kompetensi spesifik yang diakui oleh industri dan sering kali berfokus pada keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan di tempat kerja. Dengan mendapatkan micro-credentials, siswa dapat membuktikan bahwa mereka memiliki keterampilan tertentu yang dicari oleh pemberi kerja, sehingga meningkatkan daya saing mereka di pasar kerja. Program micro-credentials biasanya lebih fleksibel dibandingkan dengan program gelar tradisional, memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri sesuai dengan kecepatan dan jadwal mereka sendiri. Selain itu, micro-credentials dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum formal atau ditawarkan sebagai kursus tambahan yang dapat diakses secara online. Hal ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk terus mengembangkan keterampilan mereka seiring dengan perubahan kebutuhan industri dan teknologi.

Dengan memanfaatkan micro-credentials, lembaga pendidikan dapat membantu siswa untuk lebih siap menghadapi dunia kerja yang kompetitif. Sertifikasi ini tidak hanya menunjukkan keahlian teknis, tetapi juga kemampuan adaptasi dan komitmen terhadap pembelajaran berkelanjutan. Sebagai hasilnya, lulusan yang memiliki micro-credentials lebih mudah diterima oleh pemberi kerja dan memiliki peluang karir yang lebih baik. Integrasi micro-credentials dalam KBM dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan employability siswa dan memastikan mereka siap menghadapi tantangan masa depan.

Selanjutnya 1 2