2. Aspek Ijtimaiyah (Sosial)
Pada aspek ijtimaiyah (sosial), puasa melatih pelakunya membiasakan diri untuk berdisiplin dan bersatu padu, cinta keadilan dan persamaan antar sesama. Puasa juga membentuk sifat kasih (rahmat) dan ihsan pada orang-orang mukmin, hingga masyarakat terjaga dari kejahatan dan kerusakan karena telah tercipta solidaritas yang tinggi dan ukhuwah berdasarkan pada iman dan taqwanya. Puasa memberikan pengalaman langsung tentang keadaan dan penderitaan yang dialami oleh kaum fakir miskin atau mereka yang menderita musibah kelaparan dan sebagainya. Lantaran memiliki pengalaman ini, akan tumbuh dalam diri orang-orang yang berpuasa rasa cinta dan kasih sayang terhadap sesama, khususnya terhadap mereka yang melarat. Hal ini sejalan dengan perbuatan Nabi Yusuf saat ditanya “mengapa Anda banyak berpuasa padahal anda seorang pemegang pembendaharaan negara?” Jawab Yusuf: “Saya takut kenyang lalu melupakan orang-orang yang lapar (miskin). Selain itu, para ahli kedokteran juga mengakui bahwa banyak penyakit yang berasal dari masalah perut. Karena itu, mereka menyimpulkan bahwa ibadah puasa adalah terapi mujarab untuk menyegarkan kembali jasmani manusia.
3. Aspek shihiyah (Kesehatan Jiwa)
a. Puasa sebagai pencegah gangguan kesehatan jiwa
Pakar ilmu jiwa menyimpulkan bahwa yang mendorong/melatar belakangi manusia bertindak, berperilaku dan bekerja adalah berdasarkan kebutuhan jasmani dan rohani. Kebutuhan jasmani sangat jelas karena merupakan kebutuhan pokok dari kebutuhan manusia seperti makan, minum, dan seks. Puasa membatasi kesempatan untuk makan dan minum sehingga mengurangi aktivitas otot-otot dalam tubuh manusia sebagai pendorong hawa nafsu manusia. Salah-satu tujuan dari puasa ialah mengalahkan musuh-musuh Allah yaitu syaitan, yang masuk ke tubuh manusia melalui syahwat, sementara syahwat itu sendiri biasanya kuat karena makan dan minum, maka cara untuk mencegah syaitan dengan sedikit makan/minum atau berpuasa. Kebutuhan rohani dipandang dari segi kejiwaan, bahwa pemenuhan kebutuhan akan mendatangkan kepuasan dirinya. Apabila manusia mampu mengendalikan diri dalam pemenuhan kebutuhan pokok, maka ia akan terus berupaya untuk tidak melakukan pelanggaran terhadap hak orang lain, sehigga terhindar dari pertengkaran dan perkelahian.
b. Puasa sebagai pembinaan kesehatan jiwa
Yang dituntut oleh puasa adalah kejujuran terhadap dirinya sendiri serta jujur kepada orang lain, karena puasa merupakan ibadah batin yang tidak biasa disaksikan oleh panca indra dibandingkan ibadah lain, dan hanya Allah SWT mengetahuinya. Jika sifat jujur telah tertanam pada diri seseorang, maka dirinya akan merasa tentram, ia tidak akan dihinggapi oleh rasa takut atau rasa berdosa. Dalam ilmu kesehan jiwal, terdapat suatu cara penyesuaian diri yang tidak sehat yang disebut pembelaan (sancity), yaitu orang yang tidak berani mengakui kepada dirinya bahwa ia telah melangar nilai-nilai yang dianutnya. Ibadah puasa mencegah terjadinya gangguan-gangguan kejiwan.
c. Puasa sebagai pengobatan terhadap gangguan kejiwaan
Pengobatan kejiwaan yang paling baik adalah menghilangkan penyebab terjadinya gangguan jiwa, seperti rasa berdosa/bersalah dan rasa dendam. Apabila seseorang merasa dirinya bersalah kepada manusia atau berdosa kepada Allah SWT, ia akan menderita, dan penderitaan yang amat berat adalah merasa berdosa, ia telah mencoba dan mohon ampun kepada Allah SWT, namun rasa berdosa dan penyesalannya tidak hilang juga. Jika hal ini terus berlanjut, maka laksanakanlah puasa, terlebih lagi di bulan Ramadhan dengan tekun serta perbanyak ibadah, amal saleh dan mohon ampun kepada Allah SWT.
C. Manfaat Puasa terhadap Kesehatan Mental
Tidak hanya memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh, puasa juga baik untuk psikologis orang yang menjalankannya. Ini karena puasa menuntut pelakunya untuk menghindari hal-hal yang buruk untuk dirinya. Berikut sejumlah hasil penelitian menemukan bahwa puasa dapat memberikan pengaruh positif terhadap kesehatan mental seseorang, antara lain:
1. Menumbuhkan Rasa Empati
Puasa bisa mengingatkan umat Islam akan penderitaan orang miskin yang kesulitan untuk mendapatkan makan dan minum. Rasa lapar dan haus akan dirasakan juga oleh orang-orang yang berpuasa. Ini akan menumbuhkan rasa empati kepada sesama.
2. Mengurangi Stres dan Risiko Depresi
Menurut psikiater yang juga Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Jiwa FK KMK UGM, puasa memiliki efek langsung dalam menghilangkan stres, dimana saat berpuasa orang cenderung membuat jadwal makan yang lebih baik. Konsumsi makanan yang diatur juga memengaruhi cara berpikir menjadi lebih teratur. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa menurunkan tingkat makan, termasuk sejumlah karbohidrat, lemak, selama beberapa minggu, dapat meningkatkan kemampuan berpikir. Selanjutnya dijelaskan, jika kita berpikir dengan baik, emosi kita akan terkontrol dengan lebih baik, hal inilah yang dapat membantu mengurangi stres.
Di samping itu, puasa juga dapat menstabilkan hormon kortisol (hormon yang berhubungan dengan stres) yang diproduksi oleh kelenjar adrenal, sehingga dapat menurunkan tingkat stres dalam pikiran. Sebuah penelitian mengatakan bahwa puasa bisa mengurangi risiko depresi dan keinginan untuk bunuh diri, karena orang yang berpuasa memiliki kontrol dan penguasaan diri yang kuat. Kesadaran yang demikian itu dapat mengurangi risiko depresi.
3. Mengatur Mood Agar Selalu Positif
Saat berpuasa, seseorang selalu berusaha menghindarkan diri dari hal-hal negatif. Umat Islam sangat percaya bahwa di bulan Ramadan semua kebaikan yang dilakukan akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Kepercayaan tersebut membawa aura positif di diri seseorang yang berpuasa.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.