Oleh: Arsad Suni, M.Kep
_______
A. Konsep Umum Kesehatan Mental
Kesehatan jiwa berasal dari istilah mental hygiene. Mental berasal dari kata Latin “mens, mentis” artinya “jiwa, nyawa, roh, sukma, semangat”, sedang hygiene berasal dari kata Yunani yaitu hugyene berarti ilmu tentang kesehatan. Dengan demikian ilmu kesehatan jiwa adalah ilmu yang mempelajari masalah kesehatan jiwa, bertujuan mencegah timbulnya gangguan emosi dan gangguan jiwa, berusaha mengurangi atau menyembuhkan gangguan jiwa (Kartono, 2000; Semiun, 2010).
Sementara Daradjat (2001) mendefinisikan kesehatan jiwa adalah terwujudnya keharmonisan antarfungsi-fungsi jiwa serta sanggup menghadapi berbagai permasalahan yang biasa terjadi. Jadi kesehatan jiwa adalah terhindarnya seseorang dari gejala gangguan jiwa, terwujudnya keharmonisan antar fungsi-fungsi jiwa, dan sanggup menghadapi berbagai permasalahan yang biasa terjadi, serta memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, berlandaskan keimanan dan ketakwaan, dengan tujuan akhir untuk mencapai makna kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat.
Adapun faktor yang mempengaruhi kesehatan jiwa (Daradjat, 2001), secara garis besar mencakup faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi: kepribadian, kondisi fisik, perkembangan dan kematangan emosi, kondisi psikologis, keberagamaan, sikap menghadapi problema hidup, memaknai kehidupan, dan keseimbangan dalam berfikir. Sedangkan yang termasuk faktor eksternal antara lain: kondisin sosial-ekonomi, politik, adat/kebiasaan dan lingkungan. Menurut hemat penulis kedua faktor tersebut sama-sama penting untuk diperhatikan karena dapat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa seseorang, namun demikian faktor internal merupakan faktor yang paling dominan kaitannya dengan ketenangan jiwa dan kebahagiaan batin dalam kehidupnya, dimana hidupnya tidak banyak tergantung pada faktor-faktor eksternal, tetapi lebih tergantung pada cara pandang dan sikap menghadapi faktor tersebut.
Dalam hubungannya dengan aspek ruhaniah, sangat erat kaitannya dengan kebutuhan perkembangan jiwa dan mental seseorang, sehingg aspek ruhaniah seseorang harus dibina dan dibimbing dengan cara mengenal dan mengaplikasikan pengamalan-pengamalan dasar agama yang kuat untuk menyeimbangkan antara kebutuhan dan keinginan seseorang. Meskipun ternyata dalam ajaran Islam yang membawa obat kejiwaan dan ketentraman batin, tidak mudah diterima oleh khalayak umum atau masyarakat, bila disajikan tidak sesuai dengan perkembangan jiwa seseorang.
Prof. Dr. Zakiah Darajat menyebutkan dalam bukunya “Peranan Agama dan Kesehatan Mental”, bahwa betapa besar perbedaan antara orang beriman yang hidup menjalankan agamanya, dengan orang yang tidak beragama atau acuh tak acuh terhadap agamanya. Segala macam ibadah yang menjadi obat bagi aneka penyakit rohani, baik itu salat, puasa, zakat maupun ibadah-ibadah lainnya yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya, merupakan cara untuk membentuk dan meningkatkan kesehatan jiwa seseorang.
Salah satu ibadah yang dapat mencegah perbuatan maksiat dan menenangkan hati adalah ibadah puasa. Dengan puasa akan mengurangi kesempatan untuk makan dan minum pada seseorang, artinya berkurangnya makanan dan minuman yang masuk ke perut, maka otot-otot dalam tubuh manusia akan kurang beraktivitas.
Dari pengertian puasa tersebut, dapat disimpulkan bahwa salah-satu tujuan puasa adalah mengalahkan musuh-musuh Allah yaitu syaitan. Syaitan masuk ke tubuh manusia melalui syahwat, sementara syahwat itu bisa kuat dengan sebab makan dan minum. Puasa juga dapat melatih kejujuran serta menyehatkan jasmani dan rohani seseorang apabila dikerjakan dengan benar sesuai rukun-rukunnya.
B. Aspek Kesehatan Jiwa dalam Pandangan Islam
Meskipun dalam salah satu hadits qudsi dinyatakan bahwa “puasa itu untuk Allah SWT dan Allah sendiri yang akan membalasnya”, karena puasa merupakan ibadah yang bersifat mahdhah (langsung kepada Allah SWT). Orang-orang beriman diwajibkan berpuasa dan dianjurkan puasa sunnat lantaran puasa ini memberikan pengaruh dan hikmah untuk meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan, meliputi; aspek rohaniah (kejiwaan), ijtimaiyah (sosial), dan shihiyah (kesehatan).
1. Aspek Ruhaniyah (Kejiwaan)
Dalam aspek ruhaniyah, puasa melatih pelakunya untuk memiliki watak dan ahklak yang mulia serta menanamkan sifat-sifat kepribadian yang luhur, seperti amanah, jujur, dan dapat dipercaya serta membiasakann diri takut kepada Allah SWT baik di saat sendiri maupun saat beramai-ramai karena tidak ada yang mengawasi orang yang berpuasa kecuali kepada Allah SWT. Puasa membiasakan pelakunya untuk bersikap sabar, tahan penderitaan, serta melatih jiwa dan membantu pengendaliannya hingga ia memiliki sikap takwa. Sikap takwa yang dapat ditumbuhkan oleh puasa adalah membiasakan jiwa orang yang berpuasa meninggalkan keinginan-keinginan nafsu yang dibolehkan demi melaksanakan perintah Allah SWT dan mengharap pahala dari-Nya, sehingga terdidiklah menjadi jiwa yang taqwa dengan meninggikan segala yang diharamkan.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.