Lain dunia sepak bola, lain wilayah politik dan pemerintahan, meski keduanya membutuhkan “manajer”. Di kompetisi-kompetisi sepak bola di berbagai level, meski juga sering diterpa isu miring suap, prestasi paling nyata dari seorang manajer bisa disaksikan langsung jutaan pasang mata, langsung ataupun lewat media. Dan itu membentuk jutaan persepsi, penilaian hingga jadi opini publik, sesuatu yang sulit dibohongi. Hasil kerja pelatihnya tersaji jelas berbentuk performa tim hingga kemenangan di lapangan. Tak butuh survei hingga upaya menggiring opini penonton soal apa saja. Penonton sendiri adalah lembaga survei dan pemetaan opini. Media-media berita olahraga pun sulit memanipulasi fakta di lapangan karena penonton juga punya pengetahuan dan memiliki dua mata seperti pewarta bola.

Di wilayah politik dan pemerintahan, di kepemimpin kepada daerah misalnya, survei kepuasaan publik untuk mengukur kinerja pemerintah pada aspek-aspek tertentu, bisa saja dimanipulasi untuk kepentingan elektoral sang pemimpin. Entah untuk sekadar alasan agar terlihat berprestasi hingga keinginan berkontestasi lagi. Di Twitter pekan-pekan ini, saya jadi bosan menyimak berita-berita politik khususnya bertema pemilihan presiden. Saling membuka aib hingga mungkin fitnah, tak terhindarkan. Saya membayangkan jika generasi kita tak cukup kepekaan menyaring semua informasi begini, akan sangat berbahaya. Tak menyadari jika mindset dan pikiran buruk kita, negative thinking, sedang didesain. Alhasil, bagi yang rutin mencermati semua informasi begini, membuat kita jadi ragu untuk sekadar memilah mana informasi yang benar dan mana sampah.

Di banyak kasus, kepemimpinan di pemerintahan, ada juga spontanitas warga yang dipimpin, menyayangkan hingga tak rela seorang pemimpin mengakhiri tugasnya karena telah berakhir periode yang ditentukan untuknya. Kepergiannya bahkan ditangisi dan menyembulkan kesedihan yang mendalam, yang tergambar dari cerita dan raut wajah setiap warganya. Semua itu karena legacy kepemimpinan yang ditinggalkan benar-benar menancap hingga relung hati ketenangan dan kesejahteraan mereka. Memang tak semua, meski dalam batas tertentu, bisa digeneralisir. Poinnya, ada pengakuan karena dirasakan sebagai fakta yang dialami. Minimal, membandingkannya dengan pemimpin sebelumnya.

Tetapi lebih banyak fakta, kepemimpinan tadi, juga terkesan tak ada yang luar biasa. Datang dan pergi, bahkan hingga kembali lagi pada kesempatan berikutnya, tak ada yang istimewa. Kecuali mungkin, telah menjadi garis tangan mereka. Juga ada fakta, kepemimpinan justru jadi mudarat bagi yang dipimpin. Tidak menggambarkan dan menjelaskan visi untuk maju, malah tak jelas arah yang hendak dituju hingga membangkitkan pesimisme yang menggejala. Bahkan warga yang dipimpin pun, pesimis dengan nasib dan masa depan mereka, masa depan generasinya.

Tak seperti di markas Liverpool tadi, di stadion kebanggaan mereka, Anfield. Fans mereka membentangkan ratusan pesan yang terbaca dari spanduk-spanduk itu, tak rela manajer favorit mereka hengkang. Tak terkecuali di sudut-sudut kota.

Memimpin daerah, memang tak sama hingga tak sesederhana melatih sebuah klub sepak bola meski nilai kekayaan klub itu bisa lebih besar dari anggaran sebuah daerah. Tetapi satu hal yang pasti, keduanya mengelola amanah, kepercayaan publik. Hal yang paling utama harus disadari, untuk apa amanah itu dibebankan kepadanya.