Meski diklaim memiliki banyak relawan, kemenangan Banas di Pilkada 2020 merupakan hasil kerja keras PDIP bersama partai pengusung lain dan para relawan Jokowi. Sebab kemenangan Banas menjadi beban dan tanggung jawab PDIP, sebagai pemilik KTA PDIP dan menantu Jokowi. Maka jika ada partai lain maupun relawan Banas yang mengaku bekerja lebih keras dari PDIP, itu adalah klaim. PDIP berhak menyatakan dirinya sebagai parpol utama pendukung Banas, yang berhasil mengantar Banas menjadi wali kota Medan, seperti berjuang memenangkan Jokowi dalam 2 kali Pilpres di Sumut.
Sebab, jika bukan karena menantu Jokowi, pada Pilkada Medan tahun 2020, PDIP dipastikan mengusung kader sendiri, Wali Kota Medan petahana, Akhyar Nasution. Namun karena ada instruksi plus ancaman sanksi, seluruh kader tunduk berjuang, mendukung dan memenangkan Banas hingga terpilih. PDIP kembali menyembelih kader sendiri, seperti yang dilakukannya saat mencopot dan memecat almarhum Rudolf Pardede, sebagai Ketua DPD PDIP dan sebagai kader PDIP, Gubernur Sumatera Utara petahana saat itu. Rudolf dipecat demi Tri Tamtomo, cagubsu, dan posisi ketua DPD diserahkan kepada Panda Nababan.
Demi dan untuk menantu Jokowi, para kader PDIP dipaksa mengubur mimpi, dan mundur atau dipecat sebagai kader PDIP. Begitupun PDIP tetap solid bergerak dan berjuang memenangkan Banas. Namun pasca terpilih menjadi Wali Kota Medan, PDIP sama sekali tidak pernah “dekat” dengan Banas. Tidak satupun kader PDIP, yang secara khusus diminta Banas atau diutus oleh PDIP masuk circle Banas. Jika ada orang per orang kader PDIP yang berada di lingkaran kekuasaan Banas, itu dilakukan sendiri-sendiri karena irisan kepentingan bisnis atau kemampuan cari muka, bukan demi dan karena partai.
Banas Tidak Berkontribusi Bagi Kemenangan Jokowi di Sumatera Utara
Berdasarkan peta perolehan suara pada Pilpres 2014 dan 2019, PDIP menjadi kunci utama kemenangan Jokowi di Sumatera Utara. Jokowi kalah di pantai timur, menang di pantai barat dan dataran tinggi. Pada pemilu 2014 dan 2019, persentase kemenangan terendah Jokowi ada di wilayah Tapanuli Bagian Selatan, kampung halaman Banas. Bahkan terjadi penurunan persentase perolehan suara Jokowi pasca memiliki menantu dari Sumatera Utara.
Persentase perolehan suara Jokowi pada Pemilu 2014 di Tapanuli Bagian Selatan, kampung halaman Banas: Mandailing Natal 23,87%, Padangsidimpuan 24,59%, Tapanuli Selatan 38%, Padang Lawas 26,58%, dan Padang Lawas Utara 30,23%. Sementara pada Pemilu 2019, persentase suara Jokowi justru turun di kampung menantunya yaitu di: Mandailing Natal 17,53%, Padangsidimpuan 21,44%, Tapanuli Selatan 37,33%, Padang Lawas 21,61%, dan Padang Lawas Utara 29,15%. Banas sendiri tidak mampu memengaruhi keluarga dan kerabat di kampung halaman sendiri untuk memilih mertuanya.
PDIP Tolak Usung dan Dukung Banas di Pilkada Serentak 2024
Keputusan Banas mendukung kakak iparnya dalam Pilpres 2024 tentu harus dihormati dan dihargai. Demikian juga dengan PDIP akan berjuang memenangkan GaMa di Sumatera Utara seperti memenangkan Jokowi dalam dua kali Pilpres. PDIP akan vis a vis dengan Banas yang berjuang untuk kakak iparnya. Maka pada Pilkada serentak tahun 2024, PDIP pasti akan mengusung dan mendukung calon yang ikut berjuang memenangkan GaMa. PDIP tidak lagi memiliki beban dan tidak memiliki kewajiban untuk mendukung Banas di Pilgubsu atau Pilkada Medan. Dan sebagaimana PDIP berhadap-hadapan dengan Banas di Pilpres, demikian juga PDIP akan siap berhadap-hadapan dengan Banas di Pilkada serentak 2024. PDIP dipastikan tidak akan mengusung dan mendukung Banas, menantu Jokowi di Pilkada serentak, tahun 2024.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.