Syarif pun tak menampik bahwa beroperasinya dua pabrik pengolahan tahu-tempe adalah salah satu sumber pencemar. Namun, ada juga pencemaran dari air limbah domestik.
“Jadi akumulasi dari semua sumber pencemaran,” cetus dia.
Sebagai langkah lanjutan dari hasil uji laboratorium ini, Syarif memastikan pihaknya akan segera mengambil langkah teknis.
Di antaranya, mewajibkan dua pabrik pengolahan tahu-tempe yang sudah memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL) untuk membuat biodigester.
Biogester dimaksudkan agar ada upaya menangkap gas nektan. Caranya, air limbah itu masuk ke fasilitas biodigester baru kemudian masuk ke IPAL setelah gas nektannya ditangkap.
“Volume biodigester ini harus besar, karena produksi tahu ini semakin hari semakin meningkat jadi IPALnya itu sudah tidak mencukupi,” jelas dia.
Langkah teknis selain itu, adalah penanaman mangrove yang cocok untuk kondisi pesisir tercemar sedimen.
“Kita juga akan mengambil limbah pabrik tahu untuk kita lihat baku mutunya, apakah sudah sesuai baku mutu atau tidak,” tandas dia.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.