“Saya imbau agar semua komponen masyarakat menjaga stabilitas keamanan. Jika terjadi gesekan agar diselesaikan secara berbudaya dengan mengedepankan dialog konstruktif. Seluruh tokoh pemangku adat, ulama, Islam, Kristen, Konghucu, TNI, Polri dan Pemda duduk bersama atasi permasalahan masyarakat secara kontinyu. Tuk menjaga pihak-pihak yang ingin mengacaukan dan menciptakan disharmoni dalam masyarakat,” imbau Sultan.

Sultan Ternate ke-49 ini pun menyerukan agar seluruh lapisan masyarakat di Maluku Utara, tetap menjaga kerukunan yang harmonis serta toleran.

“Untuk Maluku Utara inshaa Allah tidak akan lagi terjadi konflik horizontal karena masyarakat Malut jernih dalam berpikir setelah konflik 1999. Pola pikir masyakarakat sekarang justru bagaimana harmonisasi hidup bermasyarakat tercipta dalam bingkai budaya. Terbukti banyak etnis yg para tokohnya telah dikukuhkan sebagai pemangku adat Kesultanan Ternate. Ini artinya kita semua bersatu hidup rukun toleran dalam bingkai kebudayaan luhur bangsa Indonesia. Khususnya nilai-nilai kearifan lokal Moloku Kie Raha yang sudah tercipta ratusan tahun lalu,” jelas Sultan.

Ia pun memastikan bahwa Kesultanan Ternate akan tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga kehidupan umat manusia di Moloku Kie Raha, yang tentunya bersama TNI dan Polri.