Kopi, air hangat, pisang dan kentang goreng hampir habis. Ngobrol kami beralih ke perpustakaan. Jelang usia 23 tahun, Provinsi Malut belum punya perpustakaan wilayah. Kota Ternate yang usianya sudah uzur, punya perpustakaan yang lumayan dibanding 10 kabupaten-kota, tapi letaknya tidak strategis. Di negeri pinggiran ini, hanya Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara akan mengukir sejarah sebagai pihak yang pertama kali membangun perpustakaan modern.

Dalam renungan kami, hal itu menunjukkan bahwa rasa cinta pada landasan kemajuan dan peradaban kita masih rapuh. Pertama, mengabaikan literasi yang diperintahkan oleh Tuhan. Meminjam sindiran Profesor Gufran, jangan-jangan rayap putih lebih mulia karena rajin “membaca” buku, jurnal, majalah, dan koran daripada kita. Sekalipun mahluk melata ini tak dianuegarhi kemuliaan pikiran seperti manusia.

Kedua, tak ada keberpihakan terhadap penggerak literasi yang menulis buku untuk merawat ingatan, menajamkan nalar, dan memperkuat tiang peradaban, seperti dialami Heroes dan Juned. Berbeda dengan Kota Makassar, dan Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, produksi buku terus mengalir karena tidak diabaikan pemerintah, benih generasi penulis pun terus tumbuh.

Ketiga, perpustakaan (dan kearsipan) menjadi anak tiri dalam perencanaan dan deru mesin-mesin pembangunanisme maupun modernisasi di daerah ini. Wajar, selain perpustakaan, dinas yang membidangi perpustakaan, kearsipan, dan literasi pun masih dipandang sebelah mata, dianggap tak penting, buangan. Padahal ia menjadi salah satu tiang penopang kemajuan dan berdaban yang kukuh.

Karena itu, dengan sepenuh hati kami berharap, nyatakanlah cinta pada literasi, sehingga tak membiarkan perintah Tuhan yang menjadi hulu kemajuan dan peradaban itu rapuh berkepanjangan. Atau seperti pepatah, “hidup segan, mati pun tak mau”. (*)