Ia yang kerap menulis dengan nama pena Ibrahim Gibra itu mengkritik kebiasaan buruk tersebut melalui esai-esainya di media nasional yang telah diterbitkan menjadi buku oleh Penerbit Kompas, “Bertutur di Ujung Jempol.” Ramainya pengunjung perpustakaan yang bisa dihitung dengan jari, hingga tardisi literasi di dalam rumah yang belum membumi, juga tak luput dari “pisau” bedahnya.

Kondisi itu tak ditampik Gubernur Malut, Abdul Gani Kasuba. Dengan jujur ia mengakui, orang-orang di salah satu negeri kepulauan ini malas membaca, yang berimbas pada rendahnya mutu pendidikan, sumber daya manusia, dan kehidupan masyarakat (Tandaseru.com, 4/10/2022).

Membaca berkelindan juga dengan mengikat ilmu pengetahuan, seperti kata cendekiawan muslim Profesor M. Quraish Shihab, pemikir kenegaraan Yudi Latif, novelis Philip Pullman, J.K. Rowling, dan seterusnya. Dan, di cafe yang kini sepi seperti perpustakaan, seusai berbagi pengalaman sebagai juru penilai dalam kompetisi menggurat esai dan opini. Ingatan Heroes (Herman Oesman) terpelanting pada masa reformasi, 23 tahun lalu, yang diamini Juned (M. Rahmi Husen) dan Mahmud Ici.

Belasan tahun sejak damai mekar, selain dengan teman, Heroes-Juned rajin menulis dan menerbitkan buku himpunan tulisan tanpa kecuali tulisan mereka yang berserak di media, juga menulis buku utuh. Jumlahnya mencapai selusinan, di antaranya “Damai yang Terkoyak: Catatan Kelam Bumi Halmahera”; “Potret Gelisah Negeri Pinggiran: Perspektif Kritis atas Maluku Utara”; dan “Negeri Nita Malili: Sketsa-sketsa Maluku Utara.”

Buku-buku tersebut diterbitkan dengan merogoh kocek sendiri, patungan. Tak ada sokongan dana dari pemerintah daerah. Tapi, ketika buku terbit, suara Heroes sedikit tinggi, instansi pemerintah terkait malah meminta penulis di daerah ini merelakan satu dua examplar untuk mengisi rak buku perpustakaan umum. Enak benar, tidak bisa. Tak ada yang keberatan dengan protes ini.