Menurut Lurah Tomalou, masyarakatnya memiliki solidaritas yang tinggi dan memegang teguh tradisi budaya yang telah ada turun temurun dari para leluhur. Para nelayan Di Tomalou memiliki tradisi Foladomo, Cou dan Matila.
Asghar Saleh dalam Tulisannya tentang Cou menjelaskan bahwa “Foladomo – Kearifan lokal yang terus dipelihara hingga kini – memiliki simbiosis tak putus antara mereka yang ahli membuat perahu, tetua yang punya mantera, pemuka agama yang memohon petunjuk dan perlindungan Tuhan dan orang ramai yang bekerja sama mengangkat perahu. Cou adalah budaya gotong royong (sorong bahu) seperti untuk membangun masjid dan pembelian ekskavator seharga Rp 1,6 miliar.
Sedangkan kunci pertumbuhan ekonomi di Tomalou menurut Lurah Tomalou adalah tradisi Matila yaitu komitmen berbagi secara merata semua hasil tangkapan ikan tanpa membedakan peran dalam tanggung jawab kerja.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.