Ia menambahkan, belum lagi tanaman monokultur sawit yang berada di daratan Gane, Kabupaten Halmahera Selatan, yakni PT GMM anak perusahan Korindo Grup yang membabat habis hutan Gane dan digantikan dengan sawit.

“Tentu dampak yang dirasakan warga amat besar, mulai dari berkurangnya asupan aliran sungai, serangan hama terhadap tanaman warga, banjir, laut tercemar karena limbah perusahaan, dan lain sebagainya. Warga semakin kehilangan ruang hidup mereka karena kepentingan korporat,” tegas Wahida.

Ia menyebutkan, alam yang seharusnya milik bersama, bisa menjadi praktik sosial “kolektif” dalam mengatur sumber daya alam secara arif dan lestari. Bukan oleh negara atau swasta, tapi oleh komunitas warga asli atau masyarakat adat/lokal setempat.

“Penting untuk memastikan ruang hidup warga terjaga, karena relasi mereka terhadap hutan dan laut sangat erat. Akan tetapi kebijakan investasi justru berdampak buruk terhadap ruang kelola warga, sehingga penting untuk kita mendorong ekonomi warga yang lebih kerkeadilan. WALHI secara nasional juga mendorong ekonomi tanding, untuk melawan sistem ekonomi politik yang dijalankan oleh negara saat ini, yakni ekonomi nusantara. Hal ini berdasarkan dari praktik ekonomi lokal warga yang memang masig dijalankan dalam beberapa wilayah,” tandas Wahida.