Gamalama Tua, kata Abdul Kadir, merupakan satu letusan yang menghancurkan bagian tengah Benteng Kastela dan Foramadiahi. Jalur aliran lavanya biasa disebut barangka (jalur gunung api).Barangka sendiri merupakan penyebutan bahasa asing yang digunakan hingga saat ini.

Gamalama Tua ini merupakan bagian sisi kiri dari Foramadiahi, atau lereng selatan Gamalama. Ia ikut mengendapkan material hingga ke Jambula, Sasa dan sebagian Gambesi.

“Dan kita saat ini berada di ruang yang sudah berusia sekitar 3 juta tahun lalu,” jelasnya.

Pusat erupsi masih dapat dilihat dari dinding sebelah kiri yang memiliki bekas terbakar. Dinding batu berdiameter sekitar 35 meter itu menjulang tinggi terlihat begitu megah.

Abdul Kadir menjelaskan, dari dinding-dinding yang masih utuh bisa terlihat sisa erupsi. Ada yang berwarna merah merupakan bagian dari efek bakar atau backing effect. Saat panas terjadi letusan dan kiri kanan masih utuh dindingnya namun bagian selatan hancur dan menjadi pusat lelehan lava.

“Jadi terbentuklah lahar lava atau channel lava. Dan merambah hingga ke Gambesi, Jambula, Sasa dan Foramadiahi,” tuturnya.

Untuk potensi terjadi letusan lagi, lanjut Abdul Kadir lagi, harus dilakukan riset secara detail apakah masih ada magma tersisa atau tidak.

“Tapi menurut saya hingga saat ini secara manifestasi di permukaan tidak menemukan air panas maka kurang lebih tidak ada magmanya. Berharap seperti itu. Tapi kalau masih ada lebih keren lagi. Namun biarlah ini menjadi sejarah masa lalu dan menjadi kembanggan kita dalam siklus evolusi Gunung Api Gamalama, jangan lagi ada letusan seperti ini, karena sudah ada permukiman di bawah. Jika dulunya ada permukiman sepadat ini, berapa korbannya?” ucapnya.

Lokasi ini sendiri pertama dikunjungi pada tahun 2005 dalam rangka penelitian Sampalo Kota Tua sekaligus penentuan usia Kota Ternate yang setiap tahun dirayakan hingga saat ini. Saat ini lokasi Lava Collapse digunakan oleh mahasiswa sebagai laboratorium alam.

“Jadi praktikum mahasiswa Fakultas Teknik Pertambangan dalam bagaimana melihat posisi ini, karena dalam eksplorasi emas sama halnya mempelajari ini,” jelas Abdul Kadir.

Ada beberapa jenis batuan yang terkandung dalam Lava Collapse ini. Di antaranya andesit, columnar joint, setting joint (kekar kolom), dan ada pula kekar berlembar. Fitur geologi yang ada di sini sangat banyak dan sangat edukatif untuk dijadikan bahan riset di daerah sini.